Na Olo Do Au-2

Dari Siantar ke Sipanganbolon
Di terminal Parluasan aku berpisah dengan Ros, Nantulang dan Kak Ade. Aku menaiki mobil combi yang akan berangkat menuju Balige. Mobil beberapa kali berputar-putar di sekitar terminal untuk mencari penumpang, karena memang penumpang mobil tersebut baru dua orang termasuk aku. Sebelum meninggalkan terminal Parluasan ada beberapa orang penumpang yang naik dan sampai di Simpang Dua mobil sudah penuh.

Mobil yang aku tumpangi melaju dengan kencang, angin dingin bertiup melalui celah kaca mobil. Matahari sudah tidak tampak lagi, namun langit masih terang. Jalanan dari Siantar menuju Parapat selalu mengingatkan aku suatu masa ketika aku masih sekolah di Siantar dan Kuliah di Medan. Jalana n yang selalu aku lalui hampir setiap bulan. Pohon-pohon sawit di pinggir jalan yang berbaris rapi seakan memberi hormat setiap kali aku lewat di sana. Pohon-pohon pinus di Harangan Ganjang membuat suasana lebih teduh, tapi kadang-kadang mencekam. Jalanan yang selalu aku rindui. Aku merasa jalanan ini memiliki jiwa dan jiwaku merasakannya.

Hari masih terang, walau mentari sudah kembali ke peraduannya ketika Danau Toba menyambut kedatanganku. Airnya yang biru dan bukit-bukit batu yang memagarinya membuat mataku tak sanggup untuk berkedip. Pemandangan yang selalu kirindui, padahal baru setahun aku meninggalkannya. Jalanan menurun dan berkelok di pinggir Danau Toba memberikan sensasi sendiri. Dulu kelokan jalan ini selalu membuat aku mabok sampai muntah-muntah, tetapi sekarang kelokan jalan ini menambah indah panorama danau.

Hampir pukul tujuh sore aku tiba di Sipanganbolon. Di Sipanganbolon jam tujuh masih sore karena langit masih terang. Aku menurunkan barang bawaanku dari mobil combi yang aku tumpangi. Tas ransel, koper dan dua set jas aku tenteng menuju rumah kami. Di halaman rumah sudah ada suaminya Lisbet. Dia membantu membawa koperku masuk ke dalam rumah. Di pintu rumah ada Lisbet dan langsung aku peluk dia dan kutanyakan bagaimana kabarnya. Menyusul dari ruang belakang ito mamanya Lisbet muncul dan kami juga berpelukan. Kulihat mata ito basah. Aku tidak tau pasti apa artinya, namun aku yakin dia sangat senang dengan kehadiranku. Cukup lama kami ngobrol melepas rindu sambil menikmati oleh-oleh dodol garut Picnic yang aku bawa dari Jakarta. Sebenarnya dodol garut picnic sudah banyak di jual di Parapat, tapi aku sengaja memilih oleh-oleh ini karena ini merupakan oeh-oleh wajib bagi orang yang pulang dari jakarta sekitar tahun 80-an dan 90-an. Waktu kecil aku sangat terkesan dengan oleh-oleh yang satu ini, dan aku berjanji dalam hati bila kelak aku bisa sampai ke jakarta, aku akan membawa oleh-oleh yang sama ketika pulang kampung. Sedikit bernostalgialah pikirku

Di tengah obrolan kami, ito mamanya Letti dan Lae datang. Mereka juga sangat senang dengan kedatanganku. Kami melanjutkan obrolan kami. Suasana menjadi semakin rame. Sesekali kami tertawa. Tak terasa perutku pun sudah lapar. Kamipun menikmati makan malam apa adanya dengan ikan mujahir arsik sebagai lauknya. Ada juga sambal andaliman yang menambah nikmat makan malam itu. Aku makan lahap sekali, selain karena aku memang sudah lapar, ditambah lagi udara yang cukup dingin, juga karena rasa makanan yang sangat pas dilidahku. Makanan kampung yang sederhana yang dulu ketika aku masih kecil merupakan makanan mewah buat kami. Dulu kami lebih sering makan dengan lauk gulamo.

Selesai makan malam, lae bapaknya Letti menjelaskan segala persiapan yang telah dilakukan untuk acara kami nanti tanggal 22. Dia menceritakan keberangkatan mereka kemarin ke Siantar dalam rangka “Manukkun Utang”. Segala sesuatu telah dipersiapakan dengan baik, tinggal menjalankannya sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Dijelaskan juga bagaimana teknis keberangkatan kami besok ke Siantar untuk “Martuppol”. Disana juga sudah bergabung dengan kami Lae Bapak Iin. Lae ini adalah adeknya lae bapaknya Letti. Dia melaporkan bahwa sudah disediakan 2 mobil yang akan mengangkut kami besok ke Siantar.

Setelah membicarakan segala persiapan terkait dengan acara tanggal 22, kamipun kembali ngobrol tentang banyak hal. Tentang pekerjaan, tentang perjalanan saya dari Jakarta sampai ke Sipanganbolon, tentang keadan saudara-saudara kami yang tinggal di Jakarta dan banyak lagi. Malam ini kami akhiri dengan tidur sama-sama di ruang tengah rumah kami. Udara dingin Sipanganbolon memaksa kami untuk mengenakan selimut yang super tebal. Kami harus banyak istirahat, karena besok banyak pekerjaan yang harus kami kerjakan.

Bersambung….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s