Na Olo Do Au-1

Dari Jakarta ke Siantar
Hari masih gelap ketika aku menyandang ransel di pundakku, menjinjing koper dan menyandang dua pasang jas. hari ini 14 Januari 2010. Orang-orang di rumah masih terlelap, dan aku membangunkan abang Juston untuk pamit. Udara masih dingin ketika aku tiba di Rawamangun. Segera aku menaiki bis Damri jurusan bandara Sukarno Hatta. Telepon genggamku berbunyi dan dia yang ada di ujung telepon menanyakan posisiku. Dia adalah kekasihku Ros yang dengan dia aku akan terbang ke Medan. Dia sudah berada di tol bandara dan segera akan tiba di bandara. Tidak lebih dari satu jam bis Damri telah menghantarkan aku tiba di bandara terminal IA. Disana telah menunggu permaisuriku. Senyumnya menyambut kehadiranku. Senyum yang sama lebih dari setahun yang lalu ketika aku melihatnya untuk yang pertama kalinya.

Matahari baru mengintip di sebelah timur ketika pesawat yang kami tumpangi meninggalkan bandara Sukarno Hatta. Kami memilih penerbangan pagi, karena kami harus tiba di Siantar dan Sipanganbolon pada hari yang sama. Besok kami harus melaksanakan prosesi “martuppol” di Gereja HKBP Parsaoran Nauli Pematang Siantar. Cuti yang sangat terbatas menyebabkan jadwal kami sangat mepet. Cuaca sedikit tidak bersahabat hingga pesawat yang kami tumpangi beberapa kali bergoyang-goyang seperti naik mobil di jalanan berbatu. Kami tiba di Polonia Medan sesuai jadwal dan langsung menuju Paradep Taxi yang akan kami tumpangi menuju Siantar. Sambil menunggu Paradep Taksi berangkat, kami menyempatkan makan siang di sebuah tempat makan yang berada persis di depan parkiran Paradep Taxi. Menu makan siang khas medan mengingatkan aku 10 tahun yl ketika masih kuliah di USU. Menu yang sangat pas di lidahku.

Tengah hari Paradep Taxi melaju meninggalkan bandara Polonia menuju Siantar. Kami hanya istirahat sekali di Pasar Bengkel yang menjual makanan khasnya dodol. Sekitar jam 4 sore kami tiba di Siantar, tepatnya di daerah Rambung Merah dekat kompleks kuburan cina. Nantulang yang beberapa hari lagi akan menjadi ibu mertuaku telah menunggu di sana. Nantulang telah lebih dulu tiba di Siantar beberapa hari sebelumnya. Dia lebih dulu datang untuk melakukan persiapan untuk acara yang akan kami laksanakan. Dari jalan besar bersama nantulang kami berjalan beriringan menuju rumah Tulang atau bapa tuanya Ros. Bapa tuanya Ros akan menjadi wali Ros pada acara kami nanti.

Tidak lama aku di rumah bapa tuanya Ros. Setelah berkenalan dan berbincang seperlunya, bersama Ros, Nantulang dan Kak Ade atau putrinya bapatuanya Ros, kami menuju terminal Parluasan. Di terminal itu kami berpisah. Aku melanjutkan perjalananku menuju Sipanganbolon. Besok kami akan bertemu lagi di Siantar dalam acara Martuppol.

Bersambung……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s