UANG ADALAH SEGALA-GALANYA..?

Ditulis pada tanggal 09 Oktober 2003

poor-old-man1Sejauh manakah uang bagi diriku?
Sejak kecil aku sudah mengenal yang namanya uang. Ada uang logam (koin) dan ada uang kertas. Dulu aku mengenal lima rupiah atau lima perak (limper), sepuluh rupiah, lima puluh rupiah (limpul), seratus rupiah, lima ratus rupiah (limrat), seribu rupiah, lima ribu rupiah, dan sepuluh ribu rupiah. Kemudian muncul lagi dua puluh ribu rupiah, limapuluh ribu rupiah dan terahir muncul seratus ribu rupiah (uang plastik) belakangan dirubah menjadi uang kertas.

Waktu aku masih anak sekolah minggu, setiap hari minggu aku aku memperoleh seratus rupiah dai ibuku. Dua puluh lima rupiah untuk “durung-durung” dan tujuh puluh lima rupiah untuk jajan. Aku sering jajan “karupuk jange” yang harganya lima rupiah satu biji. Jadi dengan uang dua puluh lima rupiah aku sudah memperoleh lima biji kerupuk jange. Saat itu aku sudah sangat bahagia dengan kelima karupuk jange tersebut. Kadang aku membeli jajanan yang lain, tetapi tidak pernah lebih dari tujuh puluh lima rupiah. Hal ini berlangsung lama selama aku aku menjadi anak sekolah minggu. Pada masa itu aku tak pernah pusing bila aku tak punya uang, karena waktu itu aku lebih sering tidak punya uang dan itu terjadi juga dengan teman-temanku. Malah aku sering merasa tidak nyaman bila aku memiliki uang.

Seiring dengan waktu, perkenalanku dengan uang semakin dekat. Aku semakin pintar membelanjakan uang. Aku semakin sering menentukan pilihan untuk memenuhi kebutuhanku, sehingga orang tuaku mempercayakan lebih banyak lagi uang kepadaku. Bukan lagi hanya sebatas seratus rupiah seperti ketika aku masih sekolah minggu. Melihat kondisi sosial ekonomi orang tuaku, aku selaluberusaha menekan kebutuhanku seminimal mungkin. Aku hanya memenuhi kebutuhan yang sangat-sangat pokok, sehingga uang yang aku minta kepada orang tuaku sesedikit mungkin.

Belakangan ini aku melihat orang-orng di sekitarku. Mereka sangat tergantung dengan uang. Banyak dari antara mereka bisa diketahui berap abanyak uang yang dimilikinya dengan membaca raut wajah mereka. Ada juga dari mereka yang sampai pusing tujuh keliling hanya karena uang. Bahkan ada juga yang sampai menyusahkan orang lain karena terobsesi dan tergila-gila dengan uang. Ini semua sempat membuat aku terpengaruh. Aku jadi bimbang, apakah memang uang adalah segala-galanya..?

Sejauh yang saya alami, aku belum pernah mengalami kesulitan besar yang disebabkan oleh uang. Walaupun memang aku belum pernah memiliki uang banyak. Namun selalu saja ada uang secukupnya sesuai dengan kebutuhanku yang memang tidak banyak.

Sebelumnya aku punya pengertian bahwa uang hanyalah sebuah alat untuk mempermudah kegiatan manusia. Manisia tidak akan mati dan dapat hidup dengan wajar bahkan sejahtera walaupun ia tidak memiliki uang. Tetapi sekali lagi, orang-orang yang kulihat di sekitarku telah mempengaruhi aku untuk merubah pengertianku tentang uang. Karena itu aku sempat berpikir bahwa kita harus memiliki uang yang sangat banyak. Uang juga dapat menyelesaikan segala masalah. Manusia tidak akan pernah bahagia tanpa uang. Bahkan manusia akan mati bila ia tidak lagi memiliki uang.

Keadaan inilah yang membuat aku bingung. Haruskah kita memiliki uang banyak..? Ataukah kita cukup memiliki uang seperlunya..? Apakah kita pasti akan bahagia kalau kita memiliki uang banyak..? Atau apakah semua masalah kita aka terselesaikan bila uang kita banyak..?

Setelah kurenungkan lebih dalam, akumenemukan pengertian yang lebih baik mengenai uang. Yang jelas uang bukanlah segala-galanya. Uang hanyalah sebagai alat untuk mempermudah kegiatan manusia. Sama halnya dengan sebuah cangkul bagi seorang petani.Dengan cangkul petani dapat mengolah tanah untuk menanam tanaman yang nantinya dapat membuahkan hasil. Untuk menghasilkan panen yang baik, petani tidak hanya membutuhkan cangkul, tetapi ia juga harus memiliki parang, sabit, pupuk dan lain-lain. Tanpa cangkul petani juga dapat mengolah lahannya. Dia bisa menggunakan bajak, traktor atau peralatan yang lain. Disisi lain cangkul juga bisa mencelakai petani itu sendiri atau orang lain. Cangkul itu juga bisa hilang. Demikianlah halnya dengan uang, sama saja dan tidak ada bedanya. Nah… apakah cangkul adalah segala-galanya buat seorang petani..? Tentu saja tidak.

Apakah uang itu perlu..? Tentu saja uang itu perlu dan memang sangat-sangat perlu, tetapi bukanlah yang paling perlu. Sebagai manusia kita membutuhkan alat-alat yang dapat mempermudah aktivitas kita dalam kehidupan sehari-hari termasuk diantaranya uang. Apakah semakin banyak alat bantu, hidup kita akan semakin baik..? Belum tentu. Kita hanya memerlukan alat bantu seperlunya saja. Jangan sampai alat bantu itu membuat kita repot karena terlalu banyak. Jadi kita butuh alat bantu secukupnya dan seperlunya saja.

Sekali lagi…
Uang memang penting, tetapi uang bukanlah segala-galanya. Yang terpenting adalah kebijaksanaan kita dalam memaknai setiap alat bantu yang kita butuhkan untuk mempermudah jalannya hidup kita. Alat-alat itu harus kita gunakan sebaik-baiknya sesuai dengan maksud, tujuan dan keperluan yang sebenar-benarnya.

Kita manusia bekerja bukan untuk memperoleh uang, tetapi untuk menghasilkan kualitas hidup yang lebih baik. Uang hanyalah bagian yang sangat kecil dari kehidupan yang sesungguhnya. Apakah kita akan pusing oleh hal yang sangat kecil ini..? Apakah kita masih akan menampakkan raut wajah sesuai dengan jumlah uang yang kita miliki…? (Terserah saya, anda dan kita semua)

Dulu, limper bisa beli satu biji karupuk jange dan aku sangat bahagia.

Tuhan….
Perbaikilah pengertianku terhadap alat-alat yang kuperlukan untuk mempermudah kegiatanku sehari-hari.
Buatlah kasih-Mu mengalir dalam hidupku
Amin…..!

Kepada yang pusing karena uang

sangMatahari

Today’s song: Semusim, Vocal: Marcellinus

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s