Dolomite Camp

1_164550654lPosting ini agak miriplah isinya dengan posting sebelumnya yaitu Kampung Susuk, karena memang Dolomite Camp itu adanya ya di Kampung Susuk.

Dolomite Camp adalah nama sebuah tempat kost yang beralamat di Jl. Abdul Hakim Ujung No. 15 Kampung Susuk, Padang Bulan, Medan. Nama Dolomite Camp dilatarbelakangi oleh nama batu kapur atau dolomite yang merupakan hasil tambang di kampung pemilik kost tersebut, sedangkan camp merupakan sebutan untuk tempat kost di sekitar kampus USU. Aku belum menemukan alasan orang sana menyebut rumah kost dengan sebutan Camp. Dan memang banyak tempat kost disana yang memakai nama Camp diantaranya Rejoice Camp, Tampomas Camp, Firdaus Camp, Lora Camp, Dorkas Camp dan lain-lain.

Aku tinggal di Dolomite Camp dari tahun 1994 sampai tahun 2001. Tempat kost ini merupakan bangunan beton permanen dua lantai yang modelnya kotak mirip ruko-ruko yang sekarang ini menjamur di pinggir jalan. Lantai bawah dibagi menjadi dua bagian. Separoh ditempati oleh pemilik rumah dan separohnya lagi disekat-sekat menjadi 5 kamar dan disewakan menjadi kamar kost. Untuk lantai atas, semuanya di sekat menjadi kamar-kamar kost yang jumlahnya 12 kamar. Dan aku menempati kamar ketiga dari belakang sebelah barat di lantai dua. Di bagian depan lantai dua ada balkon yang digunakan sebagai tempat jemuran kain dan juga tempat nongkrong.

Anak kost yang tinggal di Dolomite Camp semuanya laki-laki, karena memang pemiliknya hanya menerima laki-laki untuk tinggal disana. Alasannya lebih gampang mengawasi laki-laki…(benarkah demikian…?)

Ketika aku mulai tinggal disana, suasananya sangat memprihatinkan. Ada bebrapa kamar yang kosong, tangga ke lantai dua yang sangat gelap (tidak dipasangi lampu), kamar mandi yang dekil, lantai yang penuh dengan debu dan pasir, bau apek dimana-mana, sampah berserakan di dekat pintu kamar mandi dan banyak lagi. Belum lagi toilet yang sering mampet. Awalnya aku sempat kaget dan tidak ingin tinggal disana, tetapi karena saat itu aku tidak punya duit banyak, akupun pasrah untuk tinggal disana. Pertama kali kost disana aku hanya membayar sewa 125 atau 250 ribu rupiah (aku udah lupa) untuk satu tahun. Sementara di kosan lain sudah 500 ribu an. Benar-benar murah kan…? Itupun masih kami bagi berdua dengan sahabatku Alfonco yang tinggal satu kamar denganku.

Teman-temanku yang tinggal di Dolomite Camp ada Barita Sinaga di kamar atas paling depan. Dia kuliah di pertanian. Kalau tidak salah dia 2 tahun diatasku. Awalnya kami kompak, karena kami sama-sama marga Sinaga. Kamar yang dia tempati dipasangi karpet berwarna merah, ada kursi empuk yang dapat berputar. Dia juga memiliki tape recorder yang untuk ukuran kami waktu itu sudah cukup bagus. Dia termasuk high class di Dolomite saat itu. Namun tak lama kemudian hubungan kami tidak harmonis, aku sudah lupa apa penyebabnya. Mungkin salah satunya karena dia suka berlama-lama di kamar mandi. Bisa sampai setengah jam lho… Perbandingannya ada teman disana yang mandinya hanya dalam hitungan detik….(mandi apa numpang lewat…..hhhhh)

Di kamar berikutnya setelah kamar Barita, ada Freddy Sinaga. Freddy kuliah di politeknik jurusan energi, satu angkatan denganku. Dia berasal dari Kutacane, Aceh Tenggara. Dari Dia aku tahu kalau di Aceh ada satu temapat yang dihuni mayoritas suku batak yaitu Kutacane. Freddy merupakan salah satu teman terdekatku di dolomite. Orangnya enerjik, suka tertawa, gampang bergaul dan suka “mengkompor-kompori”.

Awalnya Freddy tinggal sendiri satu kamar, tetapi setahun kemudian dia tinggal berdua dengan teman satu jurusannya Golfried Sinaga. Dia berasal dari Tebing Tinggi. Adeknya, Sahata Sinaga setahun kemudian menjadi juniorku di Teknik Mesin dan sempat tinggal juga di Dolomite.

Kamar berikutnya ditempati oleh aku dan sahabatku Alfonco. Benda-benda yang ada di kamar itu adalah 2 buah meja, 2 buah kursi kayu, dua buah tempat tidur, satu buah lemari plastik bongkar pasang, satu buah speaker besar, satu buah radio butut dan di dinding ada sebuah “jam gadang”. Semuanya serba sederhana dan sebagian sudah butut.

Disamping kamar kami tinggal seorang anak pertanian yang sering kami panggil dengan MON. Katanya sih namanya Mon Infantri. Dia tinggal sendiri di kamar itu. Kebiasaannya adalah mnyanyikan lagu-lagu dangdut terutama dangdutnya Roma Irama dan setiap malam dia membaca alkuran. Tidak seperti kami yang makan di warung, Mon memasak sendiri makanannya dan kadang-kadang rasa laparku digoda oleh wangi indomie yang sering dia masak. Tidak lama Mon tinggal di Dolomite. Setelah dia pindah, kamipun pindah ke kamar itu, karena memang kamar itu lebih luas setengah meter dibanding dengan kamar yang lain.

Di kamar ujung dekat kamar mandi ada temannya Mon yaitu Son. Aku juga sudah lupa nama lengkap dari Son tersebut. Son jarang ada dikosan. Dia lebih suka bertandang ke tempat teman-temannya dan dia juga tidak lama tinggal Didolomite.

Kalau kamar-kamar yang tadi ada di barisan sebelah barat, di kamar-kamar sebelah timur ada Jasopan Situmorang. Jasopan orang yang unik. Dia suka membaca buku sampai dini hari. Dia suka dengan lagu-lagu rock underground. Dia memiliki sebuah radio kecil yang selalu diputar kencang sekali sampai suara radio itu serak. Bahkan radio itu bisa bersuara seharian penuh.

Dikamar sebelah kamar Jasopan ada Alpin bersama abangnya yang gendut. Mereka berasal dari Siantar. Keduanya sama sama mengenakan kacamata. Alpin kuliah di teknik sipil, sementara abangnya kuliah di MIPA. Abangnya alpin pernah berfilsafat. Katanya Cinta itu ibarat kentut, dikeluarkan bikin malu, ditahan bikin sakit dan sesak. Ada-ada saja… Di kamar selanjutnya ada Wakimin Silaban dan Robiduan Damanik. Awalnya aku heran Wakimin kok pakai marga. Ternyata dia memang batak tulen, berasal dari Siborong-borong. Wakimin hanya setahun tinggal di sana. Tahun berikutnya Wakimin digantikan oleh Sikkat Sinaga. Robiduan dan Sikkat adalah orang-orang yang rajin belajar. Setiap ada waktu di kosan mereka selaku belajar, membahas pelajaran-pelajaran yang dikuliahkan, mengerjakan soal-soal. Mereka jarang ikut nongkrong. Dan memang hasilnya kelihatan. Prestasi mereka di kampus sangat memuaskan. Kebetulan mereka satu jurusanku, jadi aku sering minta diajari oleh mereka untuk pelajaran-pelajaran yang tidak aku mengerti. Robiduan hanya dua tahun disana. Dia bersama Freddy pindah ke gang Saudara.

Sikkat tinggal di Dolomite sampai dia tamat. Dia menjadi salah satu teman terbaikku Didolomite. Selain karena dia pintar dan rajin, dia juga orang yang baik dan suka menolong. Wajahnya yang imut membuat banyak mahasiswi di kampung susuk yang tertarik kepada dia. Laki-laki yang sungguh beruntung. Kami memanggilnya dengan sebutan “kat”. Sikkat, aku tidak akan lupa buah mangga dan ikan mujahir bakar di kampungmu. Kapan lagi kita ke sana…? Sekarang Sikkat sudah jadi bos di PLN Bagan Siapiapi.

Setelah Robiduan pindah, Mahlan Sipangpang menggantikannya satu kamar dengan Sikkat. Mahlan berasal dari Samosir dan dia kuliah di Sastra Batak. Orangnya asik, tukang cerita, gampang bergaul, tapi kata teman-teman dia gampang jatuh cinta dengan perempuan. Yang tak mungkin dilupakan dari dia adalah kumis, jambang dan jenggotnya yang selalu ditata dengan rapi dan sering kali berganti-ganti model. Benar-benar unik. Yang paling berkesan ketika dia mengajak kami ke kampungnya. Kami benar-benar bertualang dan jujur… itu pengalaman yang luar biasa.

Di kamar berikutnya ada Iskandar. Dia berasal dari Palembang dan kuliah di pertanian usu. Kehidupannya benar-benar memprihatinkan. Uang bulanan yang diterimanya dari orang tua tidak cukup untuk membiayai kuliah dan kehidupannya. Sering kali dia hanya makan sekali sehari untuk menghemat pengeluaran. Kasihan sekali. Pernah sekali waktu dia keracunan karena memakan jamur yang dia temukan dikampus USU. Dimana dia sekarang ya…?

Sementara di kamar bawah ada Rapinus, Jakaria, Parlindungan anak etnomisikologi, Bang Sinuhaji yang angkatan 86 farmasi USU dan ada lagi temannya Bang Sinuhaji. Selain itu di Dolomite Camp pernah tinggal Bintara yang sering dipanggil dengan “Gua Tara…?”, Sahata, Abdul Sinaga, Sadar Sinaga, Tinggil Napitu, Herman temannya Iskandar, Ronal Sihotang yang sering kami panggil dengan Rote atau ronal tentor, Manosor yang jambangnya yang tak pernah dicukur bersih dan banyak lagi.

Di pagi hari kami penghuni Dolomite sering kali berebutan kamar mandi dan di sore hari kami sering nongkrong di balkon depan. Kami mengobrolkan apa saja dan sekaligus menggoda mahasiswi-mahasiswi yang lewat di depan kosan kami. Aku masih ingat dulu ada cewe cantik yang tinggal di Rejoice Camp namanya Martha. Kalau pergi dan pulang kampus dia selalu melewati kosan kami. Kalau dia lewat kami memanggil namanya “Mar…”. Bila dia tidak menoleh ke kami, kami plesetkan namanya menjadi “Marudut…”. Ada juga yang namanya Ervina. Kalau dia lewat kamipanggil “Vin…”, kalau dia tidak merespon kami panggil lagi dengan “Vina…”, kalau belum juga merespon, kami panggil dengan “Pinahan…..”. haha….. ada-ada saja (Maaf ya Vina…. Soalnya kamu cantik sih….)

Di Dolomite Camp ada beberapa orang yang berprofesi juga sebagai tentor atau pengajar di bimbingan belajar atau disana dikenal dengan bimbingan test. Ronal, Sikkat, Mahlan, Sadar adalah tentor di Medika. Alfonco tentor di GO dan lebih sering jadi guru privat. Robiduan pernah tentor di Bima. Karena Tentor-tentor tersebut, setiap kali paskah Ebtanas SMA, Dolomite pasti kedatangan tamu-tamu istimewa. Mereka adalah adek-adek yang mau mengikuti UMPTN dan ingin berguru kepada tentor-tentor tsb. Mereka adalah teman atau saudara dari teman-teman kami yang ada di dolomite. Kesempatan ini sekalian dimanfarkan untuk mendekati kakak-kakak mereka…. Hehehe… Kesempatan.

Di Dolomite, sesama penghuni sering bertengkar. Biasanya disebabkan oleh hal-hal sepele, seperti suara radio yang kekencangan, kesalah pahaman, masalah kamar mandi, masalah jemuran, masalah sendal jepit yang hilang dan lain-lain. Semua pertengkaran tidak pernah diakhiri dengan pertengkaran pisik dan biasanya akan baikan dalam waktu yang tidak lama.

Seperti yang saya ceritakan diawal, Dolomite Camp itu sangat memprihatinkan terutama dari sisi kebersihannya. Mungkin karena penghuninya laki-laki. Karena itu, beberapa tahun setelah aku tinggal disana diadakan perbaikan besar. Septik tank dipindahkan ke halaman depan, semua kamar mandi dikasi keramik, semua kamar dicat ulang. Dengan demikian Dolomite Camp sedikit lebih layak untuk dihuni. Tapi dasar laki-laki “cap lonceng” tetap saja tidak bisa menjaga kebersihan. Ya begitulahhh….

Banyak kisah, kejadian dan cerita yang terjadi di Dolomite Camp. Pernah sekali waktu di tengah malam kami rame-rame memotong seekor kucing. Waktu itu tepat di hari ulang tahunku 29 februari 1996. Untuk mematikan kucing yang akan dipotong, kucing dimasukkan ke dalam karung dan ditenggelamkan ke dalam ember yang berisi air. Kejam sekali. Kucing meronta-ronta beberapa lama dan kemudian mati. Kemudian kucing dikuliti lalu dicincang dan dimasak dengan bumbu apa adanya. Benar-benar baunya amis. Mencium baunya saja aku sudah mau muntah. Tetapi Andos, Mahlan dan yang lain sangat lahap menyantapnya. Ditemani dengan anggur dan TKW (bukan tenaga kerja wanita, tetapi minuman keras khas kota Medan), Andos sampai mabuk dan muntah-muntah. Semua daging kucing yang dia makan dia tumpahkan di halaman depan. Ha…ha.. Andos…Andos….

Kisah yang lain adalah di satu malam karena besoknya kami tidak kuliah kami berencana begadang. Untuk mengisi waktu begadang kami, kami mencari tuak dan durian. Ditemani dengan kacang kami menikmati tuak tersebut yang telah diramu dengan durian. Lagu-lagu batak dan tembang-tembang kenangan kami lantunkan dengan iringan petikan gitar Alfonco dan Tinggil secara bergantian. Nikmat sekali kala itu. Apalagi ketika menyanyikan lagu pamungkas “Didia Rokkappi”, tak tanggung-tanggug kami menyayikannya sekuat tenaga. Tak peduli ada yang terganggu.

Kisah lainnya, pernah ada yang main judi di Dolomite sampai tiga hari non stop. Mereka bermain leng. Anda tau kan permainan leng…? Taruhan lho… Ada yang kalah sampai ratusan ribu rupiah, ada yang menang banyak, ada juga yang bermain tipu-tipu alias tidak jujur. Kalau ada yang ketahuan main tidak jujur, biasanya permainan diakhiri dengan pertengkaran. Ketika mereka selesai bermain judi, ruangan begitu berantakan, puntung rokok dimana-mana, bekas bungkus nasi berserakan (kadang-kadang sisa nasinya masih ada), kartu bekas main leng itu juga ditinggal begitu saja.

Sekitar tahun 2008 si Abang pemilik Dolomite Camp menikah dan sedikit banyak terjadi perubahan di Dolomite Camp. Di halaman depan dibangun warung sembako. Halaman sisanya ditutupi dengan atap. Anak kost yang biasa nongkrong dan menyanyi sampai tengah malam mulai dilarang, dan banyak lagi larangan, tetapi masalah kebersihan tidak banyak berubah.

Delapan tahun sudah saya meninggalkan Dolomite Camp. Apakah Dolomite Camp masih ada…? Bagaimana dengan kabar si Abang (Turah Malem Tarigan) pemilik Dolomite Camp. Bagaimana dengan kabarnya Kak Kiki. Bagaimana dengan semua teman-teman yang pernah tinggal di Dolomite Camp, dimanakah kalian…? Masih ingatkah kalian dengan Dolomite Camp…? Masih ingatkah kalian dengan semua kisah yang pernah kita alami dan rasakan disana…?

Bagaimanapun keberadaannya, Dolomite Camp telah menjadi bagian dari sejarah panjang kehidupan kita-kita yang pernah tinggal disana.

Iklan

3 Replies to “Dolomite Camp”

  1. ha…ha…..lucu bgt ceritanya. sekarang jadi lucu padahal dulu pas kejadianya pasti menyakitkan ya.

    Btw…..apakah pacar ku ikut yg marjuji 3 hari 3 mlm itu ????? pasti ngak kan, kalopun ikut asal menang ngak apa-apa ( ha…..ha……, bercanda ).

    Trus ….siapa yg mandi kayak leang-leang itu, jgn2 ngak sabunan kali.

    Cewek2 yg kalian godain…ada yg kecantolngak , pasti ngak ada, karna beraninya klo rame2 coba sendiri pasti diam seribu bahasa ha…ha….

    Saya kangen sama jam Gadangnya, jam gadang jaman Mojopahit.

    Semoga suatu saat mantan Dolomite Camp bisa reuni an ya.

    Mauliate

  2. gk sengaja ktemu page ni.
    aq salah satu penguni tetap kampug susuk, yahh bisa dibilang anak kampung susuk asli. mungkin abang2 gk kknal am aq. tapi cukup mmbuat ktawa baca tulisan abg ttg Dolomite Camp.
    dan tentunya senang rasanya ketika tahu ad alumni penghuni kost dikampung susuk yg menulis ttg hal tersebut.
    gk banyak lhoo.. yg ingat dimana mereka kost2 sebelumnya.
    dan aq sgt respect ketika baca tulisan ini. respect buat abg yg ingt daerah kampung susuk.
    si Abang (Pak Turah Malem Tarigan) kbrnya baek2 aj, beliau sudah punya anak 2 skrg. kalo dy tau tulisan ni, dy pasti lebih bangga krn alumni kost2annya yg ttap ingat dy..
    salam hormat bagi abg penulis page ni….
    moga Kampung Susuk dapt lebih dikenal org ttg hal baiknya ketimbang buruknya (yahhh jadi kayak kampung seleb lah.. hahahahah)
    thx

    1. @ gl@ns kalera:

      Senang sekali gl@ns sudah mampir di blog ini dan meninggalkan pesan. Terimakasih atas commentnya, terima kasih atas infonya tentan Abang Turah Malem. Comment anda membuat saya jadi rindu dengan Kampung Susuk, terutama dengan Dolomite Camp-nya.

      Saya juga berharap suatu saat kampung susuk menjadi kampung yang lebih maju lagi.

      Sekalilagi terimakasih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s