Tulang Armensius Munthe

1_241784213lKetika saya masih kecil, ya masih sangat kecil sekali, mungkin waktu itu saya kelas satu atau kelas dua SD, keluarga kami kedatangan tamu istimewa. Seorang laki-laki yang kira-kira seumuran dengan bapak saya. Dia bersama dengan isterinya dan seorang anak perempuannya. Mereka naik mobil sedan dan seorang supir menemani mereka. Pakaian mereka sangat bagus dan si bapak itu mengenakan jas lengkap. Saya masih ingat jas itu berwarna abu-abu. Rambutnya disisir rapi dengan style belah samping. Dia mengenakan kacamata. Tamu kami itu memang luar biasa. Seingatku belum pernah kami kedatangan tamu sehebat itu.

Aku menyaksikan kedatangan mereka dari balik gorden pintu tengah rumah kami. Aku tidak berani mendekati mereka. Bagiku mereka seperti langit dan aku hanyalah sebutir debu di permukaan bumi. Begitulah saat itu pikiranku yang sangat sempit menyimpulkan. Aku tak berani mendekati mereka tetapi keingintahuanku sangat besar, sehingga aku tetap mengintip mereka dari celah gorden pintu tengah rumah kami.

Tamu istimewa kami itu terlihat akrab dengan bapakku. Mereka ngobrol panjang lebar. Kadang mereka tertawa. Ibuku yang ada disana juga sesekali ikut tertawa. Tetapi aku tidak mengerti apa yang mereka perbincangkan. Tidak lama tamu istimewa itu ada di rumah kami. Sebelum mereka pamit si bapak tamu istimewa kami itu memimpin doa. Semua yang ada di ruangan tengah menundukkan kepala dan melipat tangan sampai si bapak itu mengucapkan kata amen.

Sesudahnya mereka saling berjabat tangan. Dengan Kursi rodanya, bapakku mengantar tamu istimewa itu sampai ke teras depan, sementara ibuku mengantar mereka sampai ke pintu mobil yang diparkir di pinggir jalan persis di depan rumah kami. Dan mereka pun pergi meninggalkan rumah kami.

Setelah mereka pergi, aku menanyakan siapa orang itu kepada ibuku. Ibuku mengatakan kalau tamu kami itu adalah Ephorus GKPS bersama isteri dan anaknya. Ephorus GKPS merupakan pimpinan tertinggi di Gereja Kristen Protestan Simalungun yang berpusat di kota Siantar. Aku makin tidak mengerti, kok bisa pimpinan tertinggi sebuah gereja datang ke rumah kami. Kemudian ibuku menjelaskan kalau dia dulu adalah teman SMP bapakku, dan selama SMP mereka bersahabat. Setamat dari SMP bapakku melanjut ke sekolah guru, sedangkan si sahabatnya itu melanjut ke sekolah pendeta atau keagamaan (aku kurang ingat). Setelah tamat SMP mereka tidak pernah bertemu sampai bapakku menjadi guru SD bertahun-tahun kemudian dan Sahabatnya itu menjadi eporus GKPS. Begitulah penjelasan ibuku. Satu lagi penjelasan ibuku, bahwa sahabat bapakku itu bermarga munthe. Munthe adalah bagian dari saragi, jadi kami memanggilnya tulang. Sejak saat itu aku merasa kalau tulangku bertambah yaitu Tulang Munthe yang eporus GKPS itu.

Sejak saat itu aku semakin bangga kepada bapakku, ternyata bapakku mempunyai sahabat orang hebat. Aku bangga bahwa keluarga kami yang sederhana dikunjungi oleh orang paling hebat di sebuah gereja besar di simalungun. Aku pernah bercita-cita ingin menjadi orang hebat sehebat tulang Munthe itu. Sejak kedatangannya itu, tulang munthe beberapa kali datang lagi ke rumah. Setiap kali datang, dia selalu membawa oleh-oleh yang belum pernah aku lihat, kue bolu yang sangat lezat, roti kaleng yang gambar kalengnya belum pernah aku lihat dan makanan lain yang enak-enak. Mungkin karena kami tinggal di kampung kali ya….??. Sampai pensiun juga tulang munthe masih mau datang menemui bapakku di rumah. Satu hal yang selalu dia lakukan setiap kali mau meninggalkan rumah kami, dia selalu mengejak berdoa bersama. Wah tulang yang hebat…

Satu ketika Tulang Munthe mengundang ibuku datang ke rumahnya di Siantar. Ibuku pergi ke sana bersama kakaku dengan membawa seekor ayam kampung. Bapakku tidak ikut karena memang keadaan tidak memungkinkan. Bapak sudah sakit dan harus memakai alat bantu sebuah kursi roda. Pulang dari sana ibuku bercerita kalau tulang dan nantulang itu sangat gembira melihat kedatangan ibuku. Ibu dan kakakku dijamu makan bersama dan pulangnya diberikan oleh-oleh. Kakakku menerima sebuah jam digital yang bisa dikalungkan sebagai oleh-oleh dari putrinya tulang itu. Ibu dan kakakku diperlakukan layaknya saudara dekat. Padahal secara kekeluargaan kami tidak punya hubungan. Hubungan kami murni karena tulang itu sahabat bapakku ketika sekolah di Siantar. Sekarang aku mengerti kekuatan sebuah persahabatan. Semakin lama kami semakin dekat dengan tulang tsb.

Ketika bapakku meninggal tahun 1996, kami tidak terpikir memberitahukan tulang itu, dan juga kami tidak tau dimana dia tinggal setelah pensiun dari ephorus GKPS. Beberapa waktu setelah bapak meninggal, satu sore dia datang ke rumah kami dan tidak lagi mendapati bapak ada di rumah. Dia sangat sedih dan air mata membasahi pipinya. Kali ini rambutnya sudah mulai memutih, tetapi kharismanya masih tetap bersinar seperti dulu. Dia berbincang dengan ibuku dan juga kakakku. Dia benar-benar merasa kecewa tidak diberitahu ketika bapakku meninggal. Kalau ito tidak tau tempat tinggalku sekarang, bisa ditanyakan ke kantor pusat GKPS lewat telepon, mereka pasti tau, katanya kepada ibuku. Tetap seperti kedatangannya ketika bapakku masih ada, dia mengakhiri kunjungannya ke rumah kami dengan memanjatkan doa. Tapi kali ini doanya terasa pilu karena bapakku tidak ada lagi disana.

Akhir bulan januari kemarin ibuku meninggal. Kami juga tidak memberitahu Tulang Munthe itu. Lagi-lagi kami tidak tahu alamat tulang itu. Kami tidak tahu mengontak dia kemana.

Hari ini aku teringat akan tulang itu. Aku coba mencari keberadaannya di internet dengan bantuan Google searcing engine. Dari internet ini baru aku tau kalau nama tulang itu adalah DR. Armensius Munthe, tetapi tetap saja aku tidak mendapatkan alamatnya.

Tulang, seandainya tulang membaca tulisan ini, inilah pemberitahuan kami anak dari Antonius Sinaga, sahabatmu, bahwa ibu kami telah meninggal dunia tanggal 28 januari 2009. Dimakamkan di Girsang, satu makam dengan makamnya bapak kami. Seandainya tulang ada rencana mau datang ke rumah kami di Sipanganbolon, disana masih ada kakak dan putrinya.

Maaf tulang,kami tidak memberitahu….

Doakan kami ya tulang….
Kami juga mendoakan agar tulang selalu sehat, panjang umur dan suka cita. Salam juga buat Nantulang dan seluruh keluarga.

Horas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s