Kampung Susuk

1_211628786lTahun 1994 sampai tahun 2001 aku tinggal di kota Medan. Mendengar kota Medan mungkin bayangan anda aku tinggal di lingkungan kota yang ramai dengan gedung-gedung yang tinggi, jalan-jalan yang dipenuhi kendaraan dan berbagai tempat keramaian dan tempat hiburan. Tetapi kenyataannya aku tinggal di sebuah kampung yang sangat sederhana. Tempat aku tinggal dikelilingi oleh sawah yang luas, jalanan belum diaspal dan angkutan umum belum masuk ke kampung itu. Hanya becak dayung yang menjadi moda angkutan ke sana. Itulah sebuah kampung di kota Medan, persis bersebelahan dengan kampus Universitas kebanggaan sumatera utara itu (USU). Kampung Susuk namanya.

Aku berkenalan dengan kampung susuk ketika aku diterima kuliah di USU. Aku harus mencari tempat kost yang murah dan dekat dengan kampus dimana aku akan mempersiapkan masa depanku. Joice yang membawa aku dan sahabatku Alfonco ke sana. Tepatnya ke Susuk 1, rumahnya Namboru Frans. Rencananya kami akan nge-kost di kosan Namboru Frans itu, tetapi karena kosannya sudah penuh, kami direkomendasikan untuk kost di kosan milik bapak MPL Tobing yang dijaga oleh Mama Oi’, yang persis berada di depan rumah Namboru Frans. Jadilah kami tinggal di sana dan itulah perkenalanku dengan kampung susuk.

Nama Kampung Susuk diabil dari sebuah kampung dengan nama yang sama yang berada di Tanah Karo. Sejarahnya dulu orang yang tinggal pertama kali di Kampung Susuk adalah orang yang datang merantau dari kampung susuk di Tanah Karo. Penduduk asli Kampung Susuk adalah Suku Batak Karo, sementara yang lain merupakan pendatang. Pekerjaan sebagian besar penduduk setempat adalah petani. Pekerjaan yang lain adalah pegawai, pedagang dan pengusaha yang membuka usaha pendukung kehidupan mahasiswa USU seperti usaha penyedian rumah kost, warung makan, rental komputer, wartel, warnet dan lain-lain.

Di Kampung Susuk kehidupan mahasiswa dengan penduduk setempat cukup harmonis. Mahasiswa dengan penduduk setempat saling mengenal dan sering mengadakan interaksi. Interaksi yang paling banyak terjadi yaitu di warung kopi. Ada bebrap warung kopi di sana, namun warung kopi yang paling terkenal adalah warung kopi Pak Ian (Daman) dan warung kopi Ginting (wah… kalau yang ini lebih unik, nanti diceritakan khusus…). Di warung-warung itu selain menikmati hidangan kopi, teh manis, telor setengah matang, indomi rebus, para pengunjung baik mahasiswa maupun penduduk setempat bisa saling berbagi cerita membahas apa saja. Mulai dari hal-hal yang sangat sederhana sampai masalah politik yang cukup rumit. Bisa juga mereka bermain catur atau bermain kartu. Bisa juga hanya sekedar menikmati tayangan televisi.

Orang-orang yang tinggal diluar kampung susuk menganggap kalau kampung susuk itu merupakan sebuah tempat yang menakutkan. Kata mereka banyak orang jahat dan juga setan di sana. Sampai sekarang akau tidak tau alasan mereka, soalnya selama aku tinggal disana aku tidak pernah menemukan orang jahat apalagi setan. Memang satu dua ada orang yang mau mencuri kain jemuran atau samdal jepit, tetapi aku pikir itu juga terjadi di tempat lain dan tidak cukup dijadikan alasan.

Hubungan pemuda setempat dengan para mahasiswa pendatang semakin harmonis dengan adanya KMKS, kebaktian mahasiswa kampung susuk atau kebaktian muda-mudi kampung susuk, aku lupa. Yang pasti salah satunyalah… KMKS mewadahi pemuda-pemudi disana dengan kegiatan uatama adalah kebaktian setiap minggu malam. Kebaktian ini tidak mengatasnamakan satu gereja, tetapi benar-benar okumenis. KMKS ini membuat warna tersendiri bagi Kampung Susuk. Mungkin perlu diceritakan secara khusus….. ya….!

Banyak hal-hal unik dikampung susuk, salah satunya adalah tembok Kampus USU yang dibolongi. Tembok yang dibolongi ini menjadi penghubung utama kampus USU dengan Kampung Susuk. Seandainya tembok ini ditutup, kemungkinan besar semua mahasiswa yang kost disana akan pindah. Tembok yang dibolongi itu hanya bisa dilewati pejalan kaki, sepeda motor dan becak dayung. Hal unik yang lain adalah masih banyak penduduk setempat khususnya ibu-ibu yang memakan sirih lengkap dengan suntilnya (daun tembakau yang diselipkan diantara bibir dan gigi dan sesekali digosokkan ke gigi). Keunikan lainnya sebagian besar mahasiswa pendatang setelah tinggal beberapa lama disana bisa berbahasa karo. Ada lagi yang lebih unik yaitu beberapa anak kost dengan penduduk setempat sekali-sekali pergi berburu tikus sawah di sekitar kampung. Tikus yang didapat dimasak lalu dimakan rame-rame… wiiiiii…… gak sanggup aku melihatnya.

Demikianlah Kampung Susuk dengan segala keberadaan dan keunikannya. Sebuah kampung kecil di sudut kota Medan, disebelah tembok belakang Kampus USU.

6 pemikiran pada “Kampung Susuk

  1. Cerita ini kembali mengingatkan saya juga tentang suka duka ngekost di Kp Susuk selama 5 th. Mulai dari gonta-ganti tempat bayar makan per bulan, tentang Bang Turah, Sikkat, Mahlan, Ronald, Tinggil dan Bang Sinuhaji yang pernah kasurnya kebakar tapi dia pun tidak tahu…juga ttg KMKS yang anak Dolomite selalu menjadi sorotan, karena suka cari perhatian…hehehe..juga ttg begadang sampai pagi di kost belakang, ada Betty cs, dan mereka selalu kasih minum teh, gak pernah absen…dll…lanjut.

  2. ha ha ha ha ha
    i like kmpung susuk…
    mungkin kmpung susuk tak sperti dlu lgi,msih bnyak pohon2,msik bnyak sawah2,tpi sekarang kmpung susuk sudah bnyak perubahan,banyak sawah2 yg sudah dibangun perumahan,,
    jdai panas deh…
    he he he he

  3. kampung susuk sudah banyak sekali perubahan nya… sawah” sudah berkurangan karna d bangun perumahan dan asrama rumah sakit dewi maya… kalau d tembok usu sering sekali macet dan becek sampai sa’at ini jg tidak ada perubahan nya… jd harap maklum aja

    saya pemuda kampung susuk

    thanx atas saran nya semua

    GBUs.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s