Ketika Rasa Itu Datang Menyapa

fotophp37Matahari masih sering bersembunyi di balik mega. Langit juga masih setia melepas hujan. Tanah yang selalu basah tidak sempat kering dijemur matahari. Aku yang kedinginan dibalut angin yang basah, berjalan mengikuti kaki melangkah. Mengulangi hari-hari yang sama seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang berbeda, hanya umur yang bertambah tua.

Di tengah perjalanan panjang yang hampir menjemukan, sebentuk rasa yang tak aku tau namanya datang menyapa dengan lembut. Menanyakan kabar berita, menawarkan keindahan dan harapan.

Musim belum berganti, tetapi hati yang beku dibalut hujan berubah hangat dan bergairah. Jiwa yang tidur berselimutkan awan-awan kelabu kini bangkit menyingsingkan lengan baju. Menjemput Sang Bidadari yang datang entah dari dunia mana. Datang bersama sinar mentari pagi yang menyilaukan mata dibalik tirai jendela. Membangunkan tidur panjang yang membosankan. Dia datang membawa berjuta benih bunga-bunga harapan dibalik aroma tubuhnya yang begitu membius rasa. Tatapannya yang teduh menyejukkan jiwa. Tutur katanya, seyumnya dan semuanya telah membangkitkan adrenalin hingga ke ubun-ubun. Dunia yang kusam penuh warna seketika.

Aku tersadar dari lamunan panjang yang kelabu. Aku terjaga dari mimpi buruk yang mengganggu tidurku belakangan ini. Ternyata dunia ini tak seburuk yang aku impikan dan tak sesuram yang aku lamunkan. Ternyata dunia yang indah bukan hanya milik para tokoh dongeng yang pernah aku baca ceritanya di buku perpustakaan SD bertahun-tahun silam. Ternyata segala kebahagiaan bukan hanya milik para malaikat yang pernah aku dengar ceritanya bertahun-tahun yang lalu di sekolah minggu.

Hari ini keindahan dan kebahagiaan itu menjadi milik seorang anak kampung yang mencoba berjuang di bawah langit ibu kota ini. Anak kampung yang sangat susah belajar “bahasa loe-gue”. Anak kampung yang bahasa indonesianya masih “marpasir-pasir”. Anak kampung yang beberapa tahun yang lalu kulitnya masih bersisik dipanggang mentari di atas lumpur sawah. Anak kampung yang kakinya gatal-gatal karena menunggang kerbau ketika hujan turun. Anak kampung yang pernah jatuh dari pohon tuak karena ada tugas sekolah membawa sapu lidi. Anak kampung yang setahun yang lalu mulai belajar menulis blog, dan hari ini sudah kecanduan menulis blog….

Hari ini si anak kampung itu ibarat pungguk ketiban bulan. Bulan purnama yang begitu merona yang selalu dirindui jiwa-jiwa yang sedang memadu rasa.

Engkau bidadari …………….
yang datang entah dari mana
Aku yakin engkau bukan bidadari semu
yang datang seenaknya dan pergi sekuka hati
Engkau bukanlah bidadari kebetulan,
kebetulan datang kebetulan pergi.
Engkau bukan juga bidadari
yang datang tak dijemput dan pulang tak diantar.

Engkaulah bidadari yang dikirimkan Sang Pencipta
buat si anak kampung itu.
Engkaulah bulan yang dirindukan oleh sang pungguk itu.
Bahkan engkaulah permaisuri
yang akan merubah si anak kampung itu menjadi pangeran

Hari ini dengan segala keterbatasanku
aku mau katakan bahwa
Engkaulah kenyataan dari mimpi-mimpi itu
mimpi yang samar-samar yang sering menyapa tidurku
Bahkan engkaulah jawaban itu
Jawaban atas banyak pertanyaan dan permintaan
yang sering kuajukan kepada Sang Pencipta

Engkau bidadari……….,
hari ini aku menyatakan
inilah si anak kampung itu
dengan segala ketidak sempurnaannya
dengan segala kelemahannya
dengan segala keburukannya
dengan segala kekurangannya
dengan segala kesederhanaannya
dengan segala ketidakpunyaannya

Hari ini aku meminta…………..
ijinkanlah benih-benih harapan itu tumbuh dan berkembang
menjadi bunga-bunga yang indah harum mewangi.
Aku janji akan menyiraminya, memelihara dan merawatnya.
Biarkanlah hari-hari yang hangat ini berjalan sampai ke ujung
bahkan sampai bumi berubah menjadi surga
ijinkanlah si anak kampung itu
melalui sisa hari-harinya bersama sang bidadari.
semoga…………….

(oleh: si anak kampung yang mencoba berjuang dibawah langit ibu kota dan tiba-tiba mendapat hadiah natal 2008, seorang bidadari)

Iklan

8 pemikiran pada “Ketika Rasa Itu Datang Menyapa

  1. To: Alfonco Sinaga

    Toho do i. Rap managianghon ma hita asa dipasaut Tuhan akka sakkap ni rohanta sesuai dohot lomo ni roha-Na.

  2. Indah pada waktunya, semoga segala mimpi penulis terwujud, seindah bulan purnama dan seperti fajar di pagi hari yang setia muncul untuk menyinari bumi…

  3. bagus kalipun abang ini buat puisi…^_^
    sangat sangat menyentuh hati…
    selamat ya..semoga harapanya terwujud…Amin.

  4. What a wonderfull Poem…..!!!!!, ternyata ito ku punya seribu satu talenta, dari SMP aku sudah kagum sama ito, tapi hari ini kekagumanku bertambah lagi, selamat buat bidadari yang mendapat tempat yang begitu spesial dai hari itu, mudah-mudahan dia yang terbaik yang TUHAN pilihkan buat ito. GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s