Viodolorosa di Kaki Gunung Ceremai

Blue Star, bis pariwisata super executive telah menunggu di parkiran kantor LEMIGAS. Hari ini Kamis 28 Agustus 2008, sebuah perjalanan wisata akan segera dimulai. Pukul 11.30 Wib Blue Star tersebut membawa sekitar 20 orang termasuk aku dari LEMIGAS menuju Gedung Setjend DESDM di jalan Thamrin. Disana telah menunggu tiga bis pariwisata yang lain. Waktu masih menunjukkan pukul 12.00, sementara Wisata Rohani ini akan dilepas jam 14.00, jadi masih cukup waktu untuk makan siang.

Aku dan Leo memilih makan di warung padang yang ada diparkiran. Waktu makan ketemu dengan Murni yang tahun lalu ikut Wisata Rohani ke Ambarawa, tetapi kali ini dia tidak ikut karena kurang enak badan. Katanya dia baru nikah jadi keseringan kurang tidur…. Ha..ha..ha…masa sih… Tapi sudah lah, aku memang tidak mengerti hal-hal seperti itu. Mungkin karena belum pengalaman… …..He….he….he…..

Tepat jam 14.00 bis diberangkatkan, tetapi ada satu bis yang tidak ikut, karena semua peserta cukup diangkut oleh tiga bis. Sebenarnya menurutku cukup hanya dua bis saja, karena setiap bis hanya diisi separuh kapasitas tempat duduk yang tersedia. Rombongan bis pertama berangkat dan di dalamnya ada ibu Lis, nyonyanya pak Menteri. Bis kedua menyusul dibelakangnya. Bis ke tiga dimana aku duduk tidak langsung berangkat. Ada seorang peserta yang masih ditunggu. Lima menit, sepuluh menit, peserta yang ditunggu belum muncul-muncul. Ada peserta yang nyeletuk “yang terlambat ditinggl aja…!”. Tetapi koordinator rombongan mengatakan harus ditunggu karena orangnya sudah di taksi. Setelah yang ditunggu ditelepon, disepakati untuk bertemu di halte Dukuh Atas jl Sudirman untuk menghemat waktu. Memang selalu saja ada orang yang tidak taat waktu yang sering kali membuat kita kesal, bahkan kadang-kadang mengganggu jadwal yang telah ditentukan.

Setelah terlambat lebih dari 15 menit, bis ke tiga pun bergerak. Orang yang ditunggu naik di Dukuh Atas dan dia minta maaf, tetapi tetap saja banyak peserta lain yang protes. Jalan Sudirman macet. Jalan tol juga macet. Untuk menggairahkan suasana di dalam bis, beberapa peserta meminta ke awak bis agar menyetel karaoke yang memang ada terpasang di dalam bis tersebut. Tetapi awak bis itu kurang kooperatif. Setelah sekian lama baru permintaan itu dipenuhi. Mengapa…? Apakah perangkat karaoke lengkap dengan monitor LCD-nya hanya sebagai pajangan saja…? Karaokepun mulai dihidupkan, seorang peserta siap-siap menyumbangkan suaranya, tetapi tiba-tiba suara dan gambarnya macet. Spontan seorang berteriak “ CD-nya bajakan ya…?” yang lain menimpali “Wah dibeli di Glodog kali…?” “Harganya tiga seribu kan…?” Suasana jadi rame. Beberapa saat kemudian karaoke jalan lagi. Beberapa lagu jadul dinyanyikan,walaupun sering putus-putuskarena cd yang katanya “tiga seribu”. Sekitar pukul sembilan malam bis yang aku tompangi tiba di Hotel GRAGE kuningan tempat dimana kami akan menginap. Rombongan bis satu dan dua sudah tiba 20 menit sebelumnya.

Setibanya di hotel kami langsung makan malam. Diruang makan ada sebuah panggung kecil dan disana Bpk Noah (Sekretaris Badan Litbang DESDM) sedang melantunkan lagu Wonderfull Tonight. Selesai makan malam, acara dilanjutkan dengan kebaktian malam yang dipimpin oleh Bapak Pastor. Tema renungan yang dibawakan pastor adalah mengenai iman. Selesai kebaktian dilanjutkan dengan ramah tamah. Acara ramah tamah diawali dengan sumbangan lagu oleh ibu Lis Purnomo Yusgiantoro dan diakhiri dengan pengundian doorprize. Untuk doorprize aku dapat nomor undi 41 dan mendapatkan sebuah dasi. Sejak di DESDM, ini kali kedua aku dapat doorprize. Walaupun hadiahnya hanya sebuah dasi, aku senang sekali. Sementara bapak Bunga yang duduk disampingku menggerutu karena tidak dapat apa-apa.

Selesai acara ramah tamah semua peserta menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Aku satu kamar dengan Leo. Kamar yang kami tempati berukuran sangat besar. Walaupun waktu telah menunjukkan jam 11 malam, aku harus membersihkan badanku. Keringat yang telah mengering, melepisi semua kulitku dan ini membuat badanku tidak nyaman. Untung saja di kamar mandi tersedia bath tube lengkap dengan air hangatnya. Kutenggelamkan badanku di dalam air hangat itu. Selesai mandi langsung tidur agar besok tidak telat bangun.

Hotel Grage Kuningan- Jawa Barat
Hotel Grage Kuningan- Jawa Barat
Si Cantik n "cerewet" Santi dan Ina
Si Cantik n "Cerewet" Santi dan Ina

Jam 6 pagi bangun, mandi lalu sarapan sekaligus check-out. Sarapan nasi goreng, minum the dan jus nenas. Barang-barang dimasukkan kembali ke bis masing-masing. Sebelum meninggalkan hotel, semua peserta menyempatkan diri untuk foto-foto. Sekitar jam 8 kami meninggalkan hotel Grage kuningan menuju gua Maria shawer Rahmat di desa Cisantana, Kuningan. Jalanan menanjak dan berkelok. Di beberapa bagian jalan ada patroli polisi yang mengatur jalan untuk mengawal bis yang kami naiki. Mungkin karena ada istri menteri yang ikut bersama kami jadi kami perlu dikawal oleh satuan kepolisian. Ada beberapa orang tua dan anak-anak yang sengaja berkerumun dipinggir jalan untuk melihat kedatangan kami. Jadi serasa pejabat aja…. he…he…he…

Cuaca mendung dan angin bertiup kencang. Udara yang sangat dingin menusuk kulit. Turun dari bis kami menapaki jalan setapak menuju satu tempat berkumpul sebelum menapaki jalan salib. Rumah-rumah penduduk yang sederhana, kandang sapi dan pedagang oleh-oleh mewarnai jalan setapak itu. Sebuah tempat yang ditata dengan ornamen-ornamen Yesus menjadi tempat kami berkumpul. Tempat itu dinamai dengan taman Getsemane. Kembali semua peserta melakukan aksi foto-foto. Perkembangan pesat kamera digital telah memunculkan banyak “fotografer” dadakan, tak terkecuali aku.

Taman Getsemane titik awal jalan salib
Taman Getsemane titik awal jalan salib

Berfoto bersama teman-teman, berfoto dengan ibu Lis, berfoto dengan latar yang ada di sana menjadi kegiatan yang tak boleh dilewatkan.

Berdasarkan rencana, kegiatan jalan salib yang akan kami ikuti akan di ikuti juga olah bapak menteri Purnomo. Sementara bapak menteri belum tiba, kami mempelajari lagu-lagu yang akan kami nyanyikan nantinya selama prosesi jalan salib. Kami juga mengikuti ceramah singkat dari prater tentang perjalanan yesus menuju bukit golgata dan bagaimana refleksinya terhadap kehidupan kita sekarang.

Sekitar jam 10 pak menteri tiba di tempat. Sebelumnya pak menteri berada di cirebon dalam rangkakunjungan kerja ke Pertamina Cirebon dan dari sana langsung diterbangkan dengan helikopter ke kuningan tempat dimana kami sudah menunggunya. Wah…. Enak ya jadi menteri….???? Mungkin gak ya…., tapi tidaklah….

Setibanya Menteri bersama kami, acara jalan salib segera dimulai. Seorang Pastor memimpin prosesi jalan salib tersebut. Dua orang anakkecil memekai jubah putih dan kerah merah mengawal pastor itu. Yang satu memegang salib berukuran sekitar 50 cm dan yang satu lagi memegang lilin putih yang besar dan akan dinyalakan selama prosesi jalan saib. Doa-doa dipanjatkan, pujian-pujian dikumandangkan dan ayat-ayat serta renungan dibacakan.

Anak-anak membawa lilin dan patung yesus disalib
Anak-anak membawa lilin dan patung yesus disalib

Ada 14 titik perhentian di jalan salib yang harus dilalui. Dimulai dari titik pertama. Di titik pertama ini, dengan bantuan sekelompok peraga atau yang dikenal dengan TABLO memperagakan peristiwa Yesus dihadapkan kepada Pilatus dan diputuskan untuk dihukum mati. Yesus dikenai mahkota duri, diludahi, dicambuk, dan disiksa. Kelompok TABLO itu sangat piawai memerankan adegan tersebut.

Seorang suster tua yang turut mengikuti prosesi jalan salib
Seorang suster tua yang turut mengikuti prosesi jalan salib

Selanjutnya kami menaiki jalan menanjak yang dipenuhi dengan anak tangga. Para peserta yang umat katolik melantunkan ucapan-ucapan jalan salib secara bersahut-sahutan yang baru pertama kali itu aku dengarkan. Di pemberhentian kedua kelompok tablo memperagakan yesus memanggul salib. Setiap perhentian dibacakan narasi-narasi, dipanjatkan doa-doa dan dilantunkan kidung-kidung pujian. Jalanan semakin menanjak dan berkelok.

Di setiap perhentian dinyalakan sebatang lilin
Di setiap perhentian dinyalakan sebatang lilin

Di perhentian ketiga Yesus jatuh untuk yang pertama kali. Di perhentian ke empat Yesus berjumpa dengan ibunya. Di perhentian ke lima Yesus ditolong oleh Simon dari Kirene untuk memanggul salib. Di perhentian ke enam wajah Yesus yang dipenuhi lumuran darah diusap oleh Veronika. Di perhentian ke tujuh Yesus jatuh untuk yang ke dua kalinya. Perhentian ke delapan Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangisinya. Di perhentian ke sembilan Yesus jatuh untuk yang ke tiga kalinya. Di perhentian ke sepuluh pakaian Yesus ditanggalkan. Di perhentian sebelas Yesus disalibkan. Di perhentian ke dua belas Yesus wafat di kayu salib. Di perhentian ke tiga belas Yesus diturunkan dari kayu salib. Di perhentian ke empat belas Yesus dimakamkan.

Yesus disalibkan
Yesus disalibkan

Demikianlah perjalanan salib mulai dari keputusan hukuman mati sampai dimakamkan dengan empat belas pemberhentian yang melambangkan semua perisiwa yang dialami Yesus selama jalan salib. Suasananya sangat hikmad dan adegan-adegan yang diperagakan grup tablo membuat roh jalan salib ini lebih hidup dan dramatis. Bahkan ketika kita melihat peragaan Yesus yang dinaikkan ke kayu salib, semua orang terdiam dan rasanya kita benar-benar berada di golgata dua ribu tahun yang lalu.

Persis di puncak bukit ada sebuah gua kecil dan di dalamnya ditempatkan sebuah patung Bunda Maria. Gua itulah yang dikenal dengan Gua Maria Sawer Rahmat. Peserta yang umat katolik termasuk pak menteri dan isteri berkumpul di sana dan melakukan doa rosario. Sementara kami yang protestan berkumpul di sebuah pendopo untuk beristirahat sambil melantunkan lagu-lagu pujian.

Setengah jam beristirahat dan tak lupa foto-foto,kami meninggalkan gua maria. Kami menuruni bukit melelui jalan yang lebih landai. Beberapa teman membeli Oleh-oleh dari penjual yang secara dadakan membuka warung di daerah jalan salib tersebut. Ada cendra mata berupa patung yesus, patung bunda maria, salib, rosario dan lain-lain. Ada juga makanan seperti buah pisang, buah sirsak, buah alpukat, opak dan yang paling unik adalah dendeng daging celeng “aili”.

Gua Maria
Gua Maria Sawer Rahmat Desa Cisantana kuningan

Kami kembali menaiki bis menuju Gereja Katolik Cisantana. Ada yang menarik dengan gereja ini. Dari buku acara yang aku baca dikatakan bahwa didalam gereja ini ada sebuah salib arang yang merupakan sisa kebakaran gereja yang lama. Tanggal 4 juli 1980 gereja dengan rangka kayu jati denga atap sirap dibakar oleh orang tak dikenal.Kemudian gereja yang baru dibangun dan diresmikan oleh uskup Bandung tahun 1982.

Foto bersama Menteri ESDM Bpk. Purnomo Yusgiantoro
Foto bersama Menteri ESDM Bpk. Purnomo Yusgiantoro

Di gereja Cisantana kami makan siang. Anak-anak SD setempat memainkan seperangkat alat musik yang terbuat dari bambu termasuk angklung. Merekamelantunkan lagu-lagu daerah jawa barat. Pak Menteri mengungkapakan rasa terimakasihnya atas sambutan warga Cisanta yang sangat ramah kepada rombongan kami.

Dari gereja itu kami berpisah dengan Menteri. Kami pulang ke jakarta menaiki bis sedangkan pak Menteri bersama isterinya pulang dengan mobil dinas menteri. Aku menaiki bis ayang nantinya akan berhenti di UKI Cawang. Sejak kami menaiki bis, teman-teman silih berganti menyumbangkan lagu dengan karaoke. Tidak jauh dari Cisantana kami singgah untuk membeli oleh oleh. Oleh-oleh khas disana adalah tape ember, yaitu tape singkong yang dikemas dalam ember-ember berwarna hitam. Ada juga disana minuman yang unik yaitu JENIPER (jeruk nipis peras). Aku hanya membeli sebungkus kerupuk ikan khas palembang dan kerupuk nasi yang dikeringkan lalu digoreng. Aneh-aneh aja… masa dari kuningan beli oleh-oleh palembang….he…he…he… ya, hanya itu oleh-oleh yang akulihat menarik.

Bis kembali melaju menuju Restoran Pesona Laut. Di sana kami makan malam sambil menikmati angin yang berhembus dari laut di sore dan malam hari. Udang Goreng, Sate daging ikan, Ikan goreng tepung, soup ikan menjadi menu makan malam yang sangat lejat. Restoran Pesona Laut menjadi tempat yang wajib disinggahi setiap kali wisata rohani seperti halnya tahun kemarin.

Dengan perut yang kenyang kami kembali ke jakarta. Jam 9 malam tiba di cawang dan berpisah dengan teman-teman menuju rumah masing-masing.

Iklan

2 Replies to “Viodolorosa di Kaki Gunung Ceremai”

  1. Ito Paber,

    Ai pamangus do na manuratthon na so denggan di tulisan mu sahali on ito. Bereng ma tulisan nai, tor bolongkkon ma i sian blog ni ito on. Asa unang massegai makna tulisan ni ito on. Ai i do sibolis i, sian goar na i pe tandda situtu.

  2. soalan mengapa isa disalib.perangi orang yg menyalip isa.apa agama orang yg salip isa.mengapa isa diseksa?.mengapa bunuh main dgn isteri orang pergi jumpa……… minta suci.puashati?ugama yg di bohongi oleh pemerintah zaman isa disalip kerana umat isa masa itu kuat .kerajan itu buat ….. untuk kelirukan.mana kita asli????? paderi turut subahat demi wang dan kedudukan massa itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s