Surabaya Oh… Surabaya

Matahari telah kembali ke peraduannya. Lampu-lampu telah menyala dan embun malampun mulai turun meyelimuti ibu kota. Suara klakson kereta terdengar menjerit laksana dentuman meriam yang memanggil serdadu untuk bertempur. Roda-roda besi kereta yang beradu dengan rel menimbulkan suara gemuruh yang magis merasuk hingga ke jantung. Gerbong-gerbong yang kusam berbaris dengan teratur, memanjang bagaikan seekor naga raksasa.

Hari Rabu 30 Juli, pukul 18.45, Kereta api eksekutif Sembrani membawa aku dari Gambir menuju Pasar Turi Surabaya. Kereta yang aku tumpangi adalah kerete eksekutif, tetapi menurutku tidak layak lagi disebut eksekutif karena fasilitas kereta sudah banyak yang tidak layak bahkan tidak dapat digunakan. Televisi yang biasanya ada dua buah di tiap gerbong, kini tinggal bekasnya saja yang ditutupi dengan potongan tripleks. Meja kecil yang ada di setiap kursi, tidak ada lagi. Bahkan yang paling meyedihkan sekitar dua atau tiga jam dari perjalanan itu ditempuh dengan kegelapan karena genset kereta tidak berfungsi. Terlepas dari segala kekurangan itu aku sagat beruntung bisa menaikinya, karena sehari sebelumnya tiket kereta ke surabaya sudah habis terjual. Saya memperoleh tiket melalui calo dengan harga yahg lebih tinggi dari harga resminya. Sejak harga tiket pesawat naik, kereta menjadi pilihan banyak orang yang mau bepergian dari Jakarta ke Surabaya dan sebaliknya.

Sekitar pukul 07 pagi kereta tiba di stasiun Pasar Turi Surabaya. Inilah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Kota Surabaya. Kota pahlawan yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia seperti kata orang-orang. Keluar dari Stasiun, aku melihat Pasar Turi yang terbakar setahun yang lalu. Kios-kios penampungan kosong yang terbuat dari tiang-tiang baja dan dinding tripleks mengelilingi pasar yang terbakar.

Dari depan Pasar Turi naik angkot menuju penginapan Darma di depan rumah sakit Dr.Sutomo. Rasanya lama sekali angkotnya baru sampai. Jalannya keliling-keliling. Mungkin karena aku baru pertama kali kesana sehingga aku merasa lama sekali baru sampai di depan rumah sakit Dr.Sutomo. Setelah checkin, mandi dan mengganti pakaian yang telah lusuh, kemudian berangkat ke ITS. Di ITS tujuan utamaku adalah Perpustakaan Pusat ITS. Letaknya persis di belakang gedung rekorat. Keluar dari Perpustakaan aku sempatkan memotret kampus tersebut sebaga ikenang-kenangan.

Tidak lama aku di ITS. Dari sana kembali ke hotel untuk makan siang. Menu makan siang adalah soto ayam dengan minuman freshtea. Selesai makan, berangkat ke dinas Energi naik angkot LYN E. Kalau di jakarta trayek angkutan kota ditulis dengan angka, di surabaya trayek angkutan kota ditulis dengan huruf dan trayek disebut dengan Lyn yang berasal dari kata line. Di perjalanan menuju kantor dinas energi aku melewati sebuah sungai yang besar yang mengalir di tengah kota. Sungai itu bernama Kali Mas. Tidak jauh dari kali itu ada sebuah mal yang papan namanya bertuliskan Taekwondo Indonesia lengkap dengan logonya. Awalnya aku kira gedung besar itu adalah gedungnya persatuan Taekwondo tersebut, tetapi ternyata sebuah pusat perbelanjaan atau mal. Aneh….

Dari mal yang menurutku aneh itu, angkot berbelok ke kiri dan di ujung jalan ada sebuah monumen yang menjadi salah satu penanda kota Surabaya. Aku tidak tau nama monumen itu, tetapi bentuknya adalah menyerupai 3 buah bambu runcing dengan ketinggian yang tidak sama. Dari tiap bambu runcing itu keluar air sebagai pemanis. Di dekat monumen ada sebuah bangunan perkantoran yang unik. Warnanya Putih mencolok, beda dari warna-warna bangunan di sekitarnya. Bentuknya bertingkat miring dan tirai-tirai baja sebagai kanopi bertingkat-tingkat menciptakan bangunan “minimalis urban” meminjam istilah para arsitektur.

Di depan gedung minimalis urban itu, angkot memutar ke kanan hampir 180 derajat. Dan di ujung jalan ada Plaza Tunjungan yang terkenal itu. Secara umum, di mataku Surabaya tidak jauh beda dengan kota-kota lain yang disesaki dengan bangunan pusat perbelanjaan yang sering disebut dengan mal di setiap sudut kota. Hanya saja Surabaya lebih rapi di tambah dengan adanya sejumlah monumen, museum, patung dan taman sebagai penanda Surabaya sebagai kota pahlawan.

Dinas Energi tidak jauh dari paza tunjungan. Dari dinas dengan menaiki mobil dinas menuju kator PLN, selanjutnya ke stasiun pasar turi untuk membeli tiket kereta untuk pulang besoknya. Sayang sekali tiket kereta untuk tujuan jakarta baik yang langsung maupun yang via jogja atau bandung sudah habis terjual sampai dua hari kemudian. Aku putuskan untuk naik bis saja. Dari stasiun menuju pasar turi. Masuk ke pasar turi, aku melihat rangka-rangka besi bekas terbakar masih ada di sana. Hanya sedikit kios-kios penampungan yang di isi. Kebanyakan kios-kios penampungan itu kosong dan mulai lapuk dimakan hujan dan terik.

Tidak lama aku di pasar bekas terbakar itu. Aku menyeberang jalan menuju Pusat Grosir Surabaya. Aku ingin tau ada apa di sana. Sesuai dengan namamya disana ada banyak grosir. Grosir sepatu, mainan, jam tangan, aksesoris, bantal, selimut, sprei dan banyak lagi. Di depan beberapa grosir terdapat tulisan “Tidak melayani Eceran”. Aku keliling di lantai dasar,naik ke lantai satu, naik lagi ke lantai dua, keliling lagi, kemudian turun hingga kakiku pegal tanpa membeli satu barangpun. Memang aku tidak punya rencana membeli barang di sana. Aku hanya ingin tau saja.

Menjelang sore kembali ke hotel. Mandi, nonton tv, dan siap-siap untuk makan malam. Makan malam di sebuah warung tenda dekat hotel. Menunya adalah lele goreng, tempe penyet, tahu dan minumnya air jeruk. Makan malam ditemani oleh lampu petomax yang cahayanya kadang redup. Aku jadi teringat waktu kecil kami pernah memiliki sebuah lampu petromax yang selalu digantung di pintu tengah agar seisi rumah bisa diterangi. Acara yang paling seru adalah acara menyalakan lampu tersebut. Ada tahap-tahapannya dan harus dilakukan dengan cermat. Benar-benar seru, unik dan mengasikkan.

Setelah perut kenyang, naik angkot menuju mal yang menurutku unik tadi. Berfoto beberapakali di depan mal tersebut dan juga di sebuah jembatan penyebrangan persis di depan mal yang bentuknya menarik. Persis di samping mal ada sebuah museum milik TNI angkatan laut yaitu museum kapal selam. Museum ini benar-benar sebuah kapal selam yang pernah dipakai oleh TNI angkatan laut. Aku heran bagaimana caranya memindahkan kapal selam tersebut dari laut ke tengah kota surabaya. Apakan melalui kalimas yang persis di sampingnya..? Tetapi ternyata menurut informasi petugas museum, kapal itu dipotong-potong dulu baru dipindahkan dengan truk dan di rangkai kembali.

Aku kagum melihat museum itu. Melihat bentuknya yang mirip ikan hiu yang selama ini hanya pernah aku lihat di tivi atau di buku. Melihat torpedo yang ada di depan dan belakang. Melihat kabin-kabin. Melihat oskiloskop yang persis diarahkan ke hotel sahid surabaya yang ada di seberang kali mas. Melihat pipa-pipa dan katup-katup yang menempel di dinding. Melihat tempat tidur yang persis seukuran badan disusun bertingkat. Melihat dapur yang ukurannya tidak lebih dari satu meter persegi. Melihat motor penggerak. Melihat mesin diesel sebagai sumber tenaga kapal. Melihat alat komunikasi antar kabin berupa corong yang dihubungkan oleh pipa-pipa. Semuanya mengagumkan dan membuat aku takjub. Setiap detail dari kapal itu aku foto. Aku juga senpat berpikir alangkah bagusnya kalau anak sekolah diajak ke sana untuk belajar sejarah, dari pada hanya dicekoki dengan pelajaran sejarah yang kita tidak tau kebenarannya.

Puas dengan museum kapal selam, aku berjalan menuju monumen bambu runcing. Aku sebut saja namanya bambu runcing karena aku tidak tau namanya. Aku juga berfoto disana. Jalan disana lumayan asik menikmati cahaya lampu malam hari di kota Surabaya. Hanya kenyamanan sedikit terganggu karena trotoar sedang diperbaiki sehingga banyak lobang yang menganga di atas got. Kalau tidak hati-hati, kita bisa terperosot ke dalamnya. Malam semakin larut dan jalanan mulai sepi. Menjelang tengah malam kembali ke hotel. Nonton tivi sebentar lalu tidur.

Hari berikutnya bangun jam 8 pagi. Setelah mandi, turun untuk sarapan. Menunya adalah nasi putih dengan soup daging bening. Dan minumnya adalah secangkir teh. Selesai sarapan berangkat ke PLN mengambil data yang kemarin belum ada. Dari PLN naik bis kota menuju loket pejualan tiket bis antar kota. Persisnya di samping hotel antariksa. Memesan sebuah tiket bis Mawar yang akan berangkat jam 7 malam. Dari loket jalan ke restoran bamara. Makan siang dengan menu ikan gurami bakar, sayur asem yang rasanya aneh (hanya terdiri dari potongan timun dan kacang panjang yang direbus dengan santan) benar-benar tidak sesuai dengan sayur asem yang aku harapkan dan minumnya adalah sinom yang rasanya seperti air gula yang dibumbui sedikit jamu. Restorannya ramai sekali, bahkan pesananku baru bisa aku nikmati hampir setengah jam kemudian.

Selesai menikmati ikan gurami bakar dan minuman yang bernama sinom di bamara, aku naik angkot lyn C menuju pasar turi. Keliling-keliling di pasar turi, balik lagi ke loket tempat pembelian tiket bis di dekat hotel Antariksa. Dari Antariksa naik becak ke tugu pahlawan. Di tugu pahlawan poto-poto. Minum es kelapa muda dan menyaksikan dua pasang calon suami isteri yang sedang pemotretan prawedding persis di depan patung sukaro-hatta. Aku mengamati setiap detail dari monumem tersebut. Gapuranya yang berbentuk lidah-lidah api. Patung sukarno dengan teks proklamasi ditangan. Patung Hatta yang berdiri tegap di kiri belakang sukarno. Pilar-pilar yang ada persis di belakang patung sukarno hatta yang didesain seperti bekas reruntuhan akibat perang. Tugu yang tinggi menjulang persis di tengah lapangan. Patung gubernur. Patung-patung tentara yang sedang berperang dibelakang tugu. Atap-atap transparan berbentuk piramida. Relief-relief di dinding. Bahkan anak-anak yang sedang bermain volly di sana juga aku amati.

Ketika matahari mendekati batas horizon di barat, warnanya berubah keemasan pertanda siang akan berganti malam. Aku meninggalkan tugu pahlawan membawa pengetahuan baru tentang surabaya, tentang perjuangan pahlawan di sana. Matahari yang semakin surut di barat menemani perjalananku kembali ke loket bis yang akan membawaku kembali ke jakarta. Setibanya diloket, aku mampir di sebuah penjual nasi goreng. Aku pesan nasi goreng untuk mengisi perut yang sudah kosong. Aku tak ingin kelaparan didalam bis, karena perjalanan dari surabaya ke jakarta akan memakan waktu tidak kurang dari 12 jam. Jam 7.30 malam bis mawar yang aku tunggu tiba di loket. Akupun menaikinya dan duduk di bangku nomor 25 sesuai dengan nomor yang tertulis di tiket. Bis mawar membawaku kembali ke jakarta.

Angin malam yang kering bertiup menerpa wajahku, bintang-bintang bertebaran dilangit, lampu-lampu di kejauhan, menemani kepulanganku ke jakarta. Selamat tinggal Surabaya. Selamat tinggal Kota pahlawan. Dua hari yang mengesankan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s