Sipanganbolon1

sipanganbolon11Menurut cerita para orang tua, kata sipanganbolon berasal dari dua kata sipangan dan nabolon. Konon beberapa waktu yang lampau ada seekor gajah terjepit di sebuah tempat di harangan sitahoan. Tempat itu kemudian dikenal dengan Songsongan Gaja. Karena gajah itu tidak bisa melepaskan diri, akhirnya mati dan orang-orang di sana menyembelih gajah tersebut dan dimasak lalu dimakan rame-rame. Demikianlah gajah yang merupakan hewan besar dimakan dan terciptalah Kata Sipanganbolon.

Sipanganbolon adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Propinsi Sumatera Utara. Ke sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Tanah Jawa, ke sebelah timur dan selatan berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir dan ke sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Girsang. Sipangan bolon berjarak sekitar 8 km dari kota Parapat- ibu kota kecamatan, 40 km dari kota Pematang Siantar-ibu kota kabupaten dan sekitar 182 km dari kota Medan-ibu kota provinsi.

Sipanganbolon terdiri dari beberapa kampung atau huta yaitu Sigala-gala, Paropo, Sibuttuon, Sitabu, Simandalahi, Simaibang, Suhutmaraja, Paras, Sosordolok, Sibaulangit, Sidasuhut, Porti, Sidahapintu, Sidallogan, Pussu dan Sosorpea. Penduduk asli adalah suku Batak Toba dan didominasi marga Sinaga.

Menanam Padi

Kontur tanah Sipanganbolon merupakan tanah berbukit sehingga jarang ditemukan dataran yang cukup luas. Hal ini merupakan ciri dari semua daerah yang terletak dikaki pegunungan Bukit Berisan. Pendudukmayoritas bekerja sebagai petani. Sebelum tahun 90-an hampir seluruh penduduk sipanganbolon mengandalkan sawah sebagai sumber penghasilan utama, namun setelah tahun 90 para petani banyak beralih dari sawah ke ladang, yaitu pertanian tanah kering. Beberapa kawasan persawahan di Sipanganbolon adalah Sigala-gala, Lokkung, Hole, Sitabu, Gabbiri, Adaran, Sidolon-dolon, Ramba Toruan, Binanga, Sitalolo, Sibolangit, Pussu, Porti, Sidahapintu dll.

Varietas Padi yang ditanam adalah padi lokal seperti Sirambe, Sikawat, dll. Varietas ini adalah jenis padi yang berumur lebih panjang dibanding varietas unggul separti IR. Karena varietas ini lebih lama maka penanaman padi dilakukan sekali dalam setahun.

Untuk mengolah sawah, pekerjaan pertama adalah membersihkan lahan dari rumput dan tumbuhan liar yang tumbuh di lahan setelah sekianlama dibiarkan. Pekerjaan ini dilakukan dengan membalikkan tanah yang sering disebut dengan mangombakbalik. Kegiatan ini dilakukan sekitar bulan September. Setelah itu lahan kembali dibiarkan selama satu bulan. Satu bulan kemudian lahan diolah separti perlakuan pertama. Pada akhir oktober atau awal novenber padi disemaikan. Setelah pengolahan kedua, lahan diolah kembali, digemburkan, pematang sawah dibersihkan dari rumput, tanah disisir, diratakan dan pertengehan desember padi yang disemaikan dicabut dan dipindahkan kelahan yang sudah siap ditanam.

Acara tanam padi bagi saya adalah suatu momen yang unik, karena pekerjaan ini dilakukan dengan berjalan mundur. Selain unik peristiwa ini juga menyenagkan. Makan siang pasti enak karena dipersiapkan khusus oleh yang punya sawah. Lauknya biasanya adalah ikan mas yang diarsik atau digoreng. Ikan mas ini jauh lebih enak dari ikan mas yang ada dipasar karena ikan mas ini diambil dari kolam sendiri. Biasanya setelah panen sebagian sawah dibuat menjadi kolam ikan mas. Selesai makan siang kita akan tidur sejenak dan inilah acara tidur terenakdi dunia, walaupun beralaskan rumput dan beratapkan langit. Suara air yang mengalir di pancuran menjadi musik yang indah, bau lumpur sawah menjadi aroma terapi, hembusan angin membelai kulit dan sinar mentari memberikan kehangatan. Benar-benar menyenangkan.

Setelah padi ditanam, lahan harus tetap diperhatikan terutama agar air di sawah tersebut tidak kering dan tidak banjir. Sekitar 2 minggu kemudian dilakukan pemupukan pertama. Sebulan kemudian rumput (oma-oma) yang tumbuh di antara batang-batang padi dan di pematang sawah dibersihkan. Kegiatan ini disebut marbabo. Orang yang melakukan kegiatan ini disebut parbabo. Kadang kadang istilah parbabo ini diplesetkan menjadi parbada bolon…he…he…he… Parbabo biasanya adalah kaum perempuan. Mengapa? karena pekerjaan ini adalah pekerjaan yang memerlukan kesabaran, bukan dengan tenaga yang luar biasa seperti halnya mencangkul atau mambanting.

Untuk keperluan marbabo ada peralatan khosus yang dipakai yang disebut dengan tuil (kalau gak salah). Alat ini terbuat dari kaleng yang ditekuk berbentuk silinder dan pas bila dimasukkan ke jari. Jari yang dikenai alat ini adalah jari telunjuk, tengah, manis dan kelingking, tapi jempol juga kadang-kadang dipakaikan. Alat ini berfungsi untuk melindungi jari dan sebagai alat untuk mencabut rumput dan menggemburkan tanah dengan jari. Kalau kaum perempuan marbabo, laki-laki membersihkan rumput yang tumbuh di pematang sawah. Alat yang digunakan untukmembersihkan pematang sawah adalah pangali dan balibak.

Sekitar dua bulan kemudian bunga padiakan mulai muncul atau sering disebut dengan boltok. Bunga padi yang muda ini kalau dimakan rasanya manis dan inilah satu sebab mengapa tikus tertatik memakan bunga-bungan padi yang masih muda. Beberapa waktu kemudian bunga padi ini akan berubah menjadi biji. Disaat biji padi mulai terbentuk, burung-burung pemakan biji seperti apporik akan menjadi hama pengganggu. Burung-burung ini akan semakin banyak sejalan dengan semakin matangnya biji-biji padi.

Setelah padi menguning, air dihentikan dan sawah dikeringkan. Hal ini bertujuan agar proses pematangan biji padi lebih optimal dan untuk mempermudah proses pemanenan. Setelah seluruh biji-biji padi menguning dan benar-benar matang, padi pun siap dipanen. Proses pemanenan dilakukan dalam dua tahap yaitu pemotongan dan perontokan. Proses pemotongan dan perontokan biasanya dilakukan pada hari yang berbeda, tetapi bila kedua gegiatan ini dilakukan pada hari yang sama, disebut sabi-batting. Pemotongan yang disebut dengan manabi, dilakukan dengan menggunakan sabit. Padi yang sudah dipotong ditumpuk dalam tumpukan-tumpukan kecil yang disebut dengan tibalan. Tibalan-tibalan ini dikumpulkan dalam satu tumpukan besar yang disebut dengan luhutan. Luhutan ini persis seperti kue bolu raksasa, atau miniatur stadion senayan. Ukuran besar dari luhutan ini didasarkan pada berapa lapis tumpukan batang padi yang menjadi dasar luhutan tersebut. Lapisan-lapisan ini disebut dengan sittak. Semakin banyak sittak dari sebuah luhutan, semakin besar pula ukuran dari sebuah luhutan. Ukuran luhutan disebut besar bila lebih dari 7 sittak. Pada pemotongan padi ini, ada kalanya beberapa bagian batang padi yang tidak dipotong karena belum benar-benar menguning. Padi yang belum menguning ini disebut dengan turiang.

Proses selanjutnya adalah merontokkan biji atau butir-butir padi. Proses ini dilakukan dengan dua cara dibanting atau didege. Didege yaitu, butir padi dirontokkan dengan cara diinjak-injak. Ini dilakukan oleh para petani yang dulu-dulu yang belum mengenal bantingan. Menurut cerita dari orang tua saya, sering kali mardege ini dilakukan sampai malam, karena prosesnya memang cukup lambat. Orang yang tidak biasa akan mengalami kesulitan karena telapak kaki akan mengalami iritasi bahkan sampai berdarah akibat bergesekan dengan kulit padi yang kasar.

Namun sudah lama kegiatan mardege ini ditinggalkan karena tidak efektif. Mambanting adalah penemuan berikutnya untuk merontokkan butir padi. Proses ini memerlukan seperangkat alat bantingan dan terdiri dari beberapa orang personil. Bantingan terbuat dari kerangka kayu yang dibentuk seperti kotak, panjang 2m, lebar 1m, tinggi 2,5m dindingnya dibalut dengan tenda plastik dan di tengahnya ada sebuah rak yang nantinya dimana kita membantingkan untaian padi sehingga terlepas dari batangnya. Personil dalam proses mambanting terdiri dari pangahit yaitu orang yang memindahkan tumpukan padi dari luhutan ke sipembagi, pambagi adalah orang yang membagi tumpukan padi menjadi tumpukan yang lebih kecil (ukuran sekali genggam dengan dua tangan), Pamiur yaitu orang pertama yang membantingkan padi, nomor dua yaitu orang kedua yang membantingkan padi setelah dari pamiur, nomor tiga adalah orang yang membantingkan padi setelah nomor dua, pambuang adalah orang yang membuang batang padi yang telah ditinggal oleh butir-butir padi (durame), panarsari yaitu orang yang bertugas mengumpulkan dan membersihkan durame dari tempat pambantingan.

Proses mambanting ini terlihat separti proses di sebuah pabrik yang bergerak otomatis dari satu proses ke proses berikutnya. Proses ini juga menghasilkan bunyi-bunyian yang harmonis seperti permainan musik. Indah dan harmonis sekali dilihat dan didengar. Secara umum kegiatan mambanting adalah kegiatan yang menyenangkan, walaupun kegiatan ini menguras banyak tenaga hingga keringat akan bercucuran seperti biji-biji jagung, sehingga ada istilah keringat jagung. Tetapi ada satu hal yang tidak saya suka setiap kali mambanting yaitu debu yang dihasilkan dari kulit padi yaitu rogon. Rogon ini sagat menggangu hidung dan rasanya perih di seluruh kulit yang dikenainya.

Setelah seluruh butir-butir padi selesai dirontokkan, dilanjutkan dengan mamurpur yaitu memisahkan padi yang berisi dengan padi kosong atau lapung. Proses ini memanfaatkan hembusan angin. Tenda plastik yang membungkus bantingan dilepas dan rak yang sebelumnya ada dibagian tengah dinaikkan ke atas. Dua orang pamurpur akan naik ke atas bantingan yang tingginya kira-kira 2,5m. Satu orang bertugas menerima kantong-kantong berisi padi yang masih kotor dan saru orang lagi bertugas menaburkan padi dari atas bantingan. Apabila angin cukup kencang, maka otomatis lapung akan ditiup angin jauh meninggalkan butir padi berisi yang jatuh tepat dibawah si penabur. Apa bila angin tidak bertiup atau tiupannya lambat, maka diperlukan angin buatan dengan menggunakan anduri dengan cara mengipas.

Proses terahir dari seluruh rangkaian acara panen ini adalah mengumpulkan padi yang telah bersih, memasukkannya ke dalam karung plastikatau karung goni selanjutnya dibawa pulang ke rumah. Dari seluruh rangkaian proses panen, proses inilah proses yang paling memberatkan, karena kita akan memundak kantong-kantong padi yang beratnya di atas 50 kg (ada yang sampai 80kg) melewati jalan yang berliku, menanjak, menurun, melewati sungai, melewati titian bambu hingga berkilometer jauhnya. Dalam memundak ini, tidak sedikit orang yang sipanggaron memaksakan diri memundakdengan berat yang tidak masuk akal. Mungkin ini satu penyebab banyak orang disana bertubuh pendek.

Demikianlah rangkaian panen ini berlansung dengan segala susah senangnya. Jujur, lebih banyak senagnya. Bisa bermain di atas durame, meniup trompet yang terbuat dari batang padi dan banyaklagi permainan selama masa panen.

my wonderfull office, 26 juni 2008

sangMatahari

Iklan

5 Replies to “Sipanganbolon1”

  1. Tabo do jaha on sinuratmon bah. Dang terpikir hian iba gabe muncul ide songonon. Mauliate ma. Dang hujaha dope sude. Alai pas sahat tu hat “tuil” hera-hera taringot ahu goarna “tiul” do ra ba [pasoluk leter “i” dohot “u”].
    Ai toho do gambar ni na di hitaan inanta nadua na di hauma i, na pas marsuan i? Ise mai ulaning?

    Olo do ra nga dijaha Par Haramgan sinuratmon ate. Antar ahama annon nuaeng komentarna ate? Ai jot-jot dope ibereng nasida angka namasa sisongonon di san [ ra di Harangan nai pe tong dope godang songon on??!!!].

    Horas Par Harangan!!!!!!!

  2. Mauliate dikomentarmuna on.
    Ido.”tiul”do na toho.
    Mohon koreksi molo adong dope akka kata2 manang pernyataan na tidak tepat di tulisan on.

    Adong keinginan untuk menuliskan kembali akka budaya manang kehidupan na adong di Sipanganbolon. Agar bisa diwariskan kepada generasi yang akan datang. Menurut ahu ini salah satu wujud kepedulian terhadap Sipanganbolon.

    Mudah-mudahan ada dan banyak orang Sipanganbolon yang mau menuliskan pengalamannya tentang Sipanganbolon.
    Semoga.

  3. Santabi di hamu amang Sinaga ! manungkun jo ahu, adong do di tarombo muna Sinaga na di Girsang goar ni ompungmuna namargoar GURU BALLUK SINAGA … jei Guru Balluk Sinaga on ma simatua/hula hula ni daompung GURU SOLONDUNGON MANURUNG sian Hatinggian Lumban Julu … mauliate!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s