Pohon Pisang di Belakang Rumah

Waktu aku anak-anak, di samping kiri belakang rumah kami ada serumpun pohon pisang. Jenis pisang itu adalah pisang kepok, tapi orang-orang di kampung kami mengenalnya dengan pisang sitabar. Aku lupa entah darimana ibuku mengambil bibitnya kemudian ditanam di situ. Kalau aku tidak salah bibitnya diambil dari anakan pohon pisang yang ada dipekarangan rumah Oppung Toruan. Oppung Toruan adalah inang tua ibuku yang tinggal sekitar 50 m ke arah toruan dari rumah kami. Kami biasa memanggil sanak saudara sesuai dengan nama tempat tinggal mereka seperti Oppung Siattar, Oppung Paropo, Namboru Parapat, Namboru Timuran, Amangtua Girsang, Amangtua Banua, Tulang Sitabu, Inanguda Pahae, Inanguda Bandarbetsi, Abang Ujungpandang dan sebagainya. Kapan-kapan aku akan ceritakan tentang mereka.

Kembali ke masalah pohon pisang itu. Menurutku pohon itu luar biasa, karena dia lebih subur dari semua pohon pisang yang ada di sekitarnya. Batangnya besar-besar dan tinggi-tinggi, buahnya banyak dan rasanya cukup manis, bahkan sering kami makan tanpa terlebih dulu dimasak. Padahal pisang jenis ini biasanya dikonsumsi setelah digoreng atau direbus. Pisang jenis ini bukanlah jenis pisang yang biasa langsung dimakan seperti jenis pisang ambon, barangan, singali-ngali atau yang lainnya.

Awalnya aku heran mengapa pisang ini lebih subur dari yang lain. Ternyata penyebabnya adalah karena persis dekat pohon pisang itu ada kandang babi. Kotoran dari kandang babi itu telah menjadi sumber gizi terbaik bagi kemakmuran pohon pisang tersebut. Antara pohon pisang dengan babi yang ada di kandang itu telah terjadi simbiosis mutualisme. Kotoran babi menjadi pupuk dan sebagian daun pisang dimakan babi. Mereka telah lama hidup rukun dan saling menguntungkan. Sekali-sekali manusia perlu belajar ke mereka tentang kerukunan.

Ada kebiasaan masa kecil yang sering aku lakukan dibalik pohon pisang tersebut. Aku sering kencing di balik pohonnya yang besar. Pohon itu sanggup menutupi aku dari pandangan orang yang munkin lewat. Sebenarnya waktu itu, kami sudah memiliki WC, tetapi karena jaringan air bersih belum ada, jadi kebutuhan air untuk WC itu kami ambil dari air hujan yang ditampung dari talang atap rumah dan dikumpulkan dalam satu bak. Bila musim hujan air memang melimpah, tetapi bila musim kemarau air di bak kami akan surut, bahkan kadang-kadang sampai kering. Nah disaat musim kemaraulah rumpun pohon pisang itu menjadi tempat kencing terbaik dan praktis bagiku. Ini kebiasaan yang tidak boleh ditiru.

Banyak keuntungan yang kami dapatkan dari pohon pisang itu, terutama dari buahnya. Setiap kali dia berbuah dan buahnya dipanen, kakakku atau ibuku akan memasak sebagian buahnya. Sebagian lagi kami makan tanpa dimasak dan sebagian lagi kadang dimakan oleh musang atau burung waktu masih tergantung di pohonnya. Kakakku cukup pintar mengolah buah pisang itu menjadi makanan yang enak, kadang digoreng, dikolak, digoreng jadi keripik, dibuat lappet (kami menyebutnya lappet pisang karena biasanya lappet terbuat dari tepung beras). Tetapi kalau ibuku yang mengolah pisang itu, paling hanya direbus “dibolgang”. Walaupun hanya direbus, rasanya tetap enak dan kami biasa membawanya ke ladang atau ke sawah menjadi penganan disaat istirahat.

Selain buah, daunnya juga kami manfaatkan. Daunnya bisa dijual ke pekan Tigaraja, atau digunakan menjadi bungkus lappet. Di rumah lumayan sering memasak lappet untuk makanan bila ada acara arisan, partangiangan, atau hanya sekedar dibawa ke ladang atau ke sawah sebagai pengganti roti. Di kampungku waktu itu masih jarang ada roti. Kalaupun ada di warung “kode” paling roti kelapa, roti bulan dan roti ketawa. Disebut roti kelapa, karena isinya adalah kelapa parut yang dicampur gula. Disebut roti bulan karena bentuknya bulat pipih persis seperti bentuk bulan disaat purnama. Disebut roti ketawa karena roti ini besarnya sebesar bola gof, tetapi kulitnya pecah-pecah seperti bibir orang yang sedang tertawa. Daun pisang ini juga sering digunakan abang dan kakakku untuk membungkus nasi bila mereka sekolah sore. Waktu itu belum ada tapper wear seperti yang dibawa anak TK jaman sekarang ke sekolahnya. Waktu itu ada kebiasaan sekolah sore, yaitu pelajaran tambahan pada sore hari di sekolah, satu atau dua bulan menjelang ujian akhir (EBTANAS). Pagi-pagi sekali abang dan kakakku akan menyiapkan bekal untuk makan siang di sekolah. Nasi dimasak diperiuk “hudon” diatas tungku “tataring” dengan bahan bakar kayu “soban”. Lauknya biasanya telur dadar atau ikan teri digoreng kering, kadang-kadang digoreng sambal. Setelah nasi dan lauknya matang, kemudian dibungkus dengan daun pisang yang telah disiapkan sebelumnya. Daun pisang ini kadang-kadang sudah terlebih dahulu dipanaskan di dekat api agar lebih lentur sehingga tidak robek bila digulung dan dilipat waktu membungkus. Proses ini harus dilakukan dengan cepat agar tidak terlambat tiba di sekolah. Jarak sekolah mereka dari rumah kami sekitar 10 km. Kehidupan waktu itu adalah susah untuk ukuran jaman sekarang, tetapi waktu itu kami bisa menikmatinya dan bahagia. Percaya atau tidak, aroma makanan yang telah dibungkus dengan daun pisang ini akan menjadi unik dan menambah selera makan.

Selain untuk membungkus makanan, daun pisang tersebut dipakai juga untuk alas bila ada kegiatan memotong babi atau kerbau. Kegiatan memotong ini dilakukan pada saat ada acara pesta atau pada saat natal dan tahun baru. Memotong babi atau kerbau pada saat natal dan tahun baru disebut marbidda. Babi atau kerbau dipotong dan dibagikan dengan bagian yang sama kepada seluruh warga. Untuk membuat bagian menjadi sama digunakan alat timbangan yang terbuat dari batang kayu berbentuk lengan yang sama panjang ke kiri dan ke kanan. Lain waktu akan aku ceritakan tentang marbidda ini.

Karena pohon pisang itu cukup tinggi, maka untuk mengambil daunnya harus memakai alat bantu. Pohon pisang bukanlah jenis pohon yang bisa dipanjat. Alat bantu itu adalah sebuah sabit yang diikatkan di ujung sebuah galah panjang. Galah diarahkan ke atas menuju pangkal pelepah daun pisang. Setelah sabit persis berada di atas pelepah, galah tiba-tiba dihentakkan dan pelepahpun akan terpotong dan jatuh ke tanah bersama daunnya. Pelepah dipisahkan dari daunnya, kemudian daun digunakan sesuai dengan keperluannya.

Sementara itu pelepahnya sering dibuang. Tetapi menurutku anak-anak disana termasuk kreatif. Pelepah daun pisang itu dapat dibuat menjadi mainan seperti mobil-mobilan, kuda-kudaan, tembak-tembakan dan satu lagi yang tidak ada nama bahasa indonesianya yaitu lapak-lapak. Disebut lapak-lapak karena mainan ini mengeluarkan bunyi mallapak. Menurutku anak jaman sekarang perlu juga mengetahui mainan-mainan tersebut sebagai bahan perbandingan dengan mainan yang mereka beli di toko, atau mainan yang sering mereka mainkan dilayar monitor.

Sepanjang yang aku tau, pohon pisang itu selalu memiliki anakan yang bayak. Tetangga sering mengambil satu atau dua anakannya untuk mereka tanam diladang atau pekarangan rumah mereka. Mereka mengambilnya bukan membelinya. Dalam kehidupan tidak harus selalu menjual dan membeli. Ada rasa kepuasan dan sukacita yang dalam bila kita bisa memberi, demikian juga dengan orang yang menerimanya. Disinilah aku melihat bahwa uang bukanlah segala-galanya. Ibuku dulu tidak membeli anakan pisang tersebut, tetapi kami telah menikmati banyak dari pohon pisang itu. Sadar atau tidak, pohon pisang itu telah ikut mewarnai sepenggal perjalanan hidup kami.

Tetapi sudah beberapa tahun ini rumpun pohon pisang itu tidak lagi ada disana. Mungkin sudah saatnya dia pensiun dari belakang rumah kami. Kami benar-benar merasa kehilangan. Tapi sudahlah. Kami tidak pernah menyesalinya. Setidaknya kami pernah punya pohon pisang terbaik dikampung kami.

Istana kecilku, 9 Mei 2008

About these ads
Categories: Sipanganbolon | 7 Komentar

Post navigation

7 thoughts on “Pohon Pisang di Belakang Rumah

  1. F415

    Salam Kenal…..

    hidup Ngeblog…….

    http://ateonsoft.wordpress.com/

  2. ester

    ow,,,,,,,,kta deketan tu rmah na.ho…3x
    aq la gi liat pisang yang di kasi etilen,,,mah yang nongol pisang sitabar,,ho,,3x

  3. gani sirait

    horasss…di tanda hamu dope au? beha do kabar di si? au par sitabu do,di ingot hamu dope di tikki hita di PAR NASIB!!!! molo au saonari posisi di surabaya do. Mauliate ma di Tuhan boi hita pajumpang dos pe na di dunia maya on..

  4. ah teho bangun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: