Poco-poco dan Cucok rowo di Perkawinan orang Batak

20131109_153551Hari Sabtu yang lalu 9 Nopember 2013 saya menghadiri sebuah acara adat pernikahan di daerah Jatiasih. Saya sengaja datang terlambat, karena posisi saya dalam acara itu adalah bagian dari Hula-hula anak manjae pihak pengantin laki-laki. Dengan posisi itu ada dua prosesi yang akan saya ikuti. Prosesi pertama adalah prosesi memasuki gedung yaitu berjalan dari luar ke dalam gedung dengan membawa beras dalam tandok masing-masing dan diserahkan kepada suhut. Prosesi kedua adalah memberikan ulos kepada mempelai. Jadi saya sengaja datang terlambat, karena jarak waktu antara prosesi pertama dengan prosesi kedua yang akan saya ikuti bisa berselang 4-6 jam dan selama itu pula saya hanya akan jadi penonton (tolong pada pihak terkait waktu ini dipersingkat). Prosesi pertama biasanya antara jam 11.30 sampai 12.00, sedangkan prosesi kedua biasanya pada jam 4-6 sore, bahkan ada yang sampai jam 7 malam. Jadi biarlah saya hanya mengikuti prosesi yang kedua. Sebagai konsekwensinya saya tidak lagi kebagian makan siang dan tidak dapat sovenir. Tidak apa-apalah, saya memang sudah mengantisipasinya dengan makan siang dulu dari rumah.

Ketika pertama kali saya mengikuti acara adat pernikahan di Jakarta, saya sangat terkagum-kagum. Mengapa tidak?. Gedungnya yang mewah dengan segala aksesorisnya, mempelai yang dipajang di atas pentas bak raja dan ratu, makanannya yang melimpah, suara musik dan penyanyi yang menggelegar, para undangan yang berdandan mewah, dan banyak lagi. Belum pernah saya melihat acara pernikahan adat batak semewah itu sebelumnya. Kala itu saya yang masih lajang sempat berangan-angan kelak saya harus duduk di atas pentas itu sebagai raja. Di kampung kami acara seperti ini biasanya dilangsungkan di halaman rumah dengan naungan tenda-tenda plastik dan beralaskan tikar plastik bekas jemuran padi. Mempelaipun hanya didudukkan diatas sehelai tikar pandan. Sedangkan makanan hanyalah nasi putih dengan lauk sangsang. Jangan harap ada sayur, ayam goreng, sop jamur, apalagi eskrim.

Setelah beberapa kali mengikuti acara sejenis di Jakarta, saya mulai melihat banyak keanehan. Makanan yang disajikan memang enak, tetapi suara sound system yang di setel sekencang-kencangnya menghilangkan nafsu makan. Bahkan sering kali suara gemuruh loud speaker itu membuat perut mual. Sepanjang acara, saya tidak pernah bisa mendengar apa yang diucapkan oleh orang yang disamping saya, walaupun dia sudah berteriak sekencang-kencangnya. Sering kali para tamu undangan yang berpakaian necis dengan jas atau batik mahal dan berkebaya prancis yang hampir transparan, bersarung songket palembang dengan konde beraksessoris emas itu sudah menyantap hidangan sebelum doa makan dibacakan. Belum lagi tas-tas bermerek hermes yang mungkin dibeli di mangga dua atau pasar senen, dijejali dengan plastik berisi sangsang, ikan mas, panggang, ayam goreng yang dituang dari piring di atas meja. Pernah juga ada seorang ibu yang marah-marah karena dia tidak kebagian sebotol bir. Luar biasa.

Yang paling membuat saya terkejut, hampir di semua (tidak semua, tapi kebanyakan) pesta pernikahan batak di Jakata yang saya hadiri disuguhi dengan lagu poco-poco lengkap dengan gerakannya. Saya tidak tahu apa relevansinya lagu poco-poco ini dengan adat pernikahan orang batak. Saya tidak mengatakan lagu poco-poco ini jelek, atau murahan. Lagu ini sangat enak kalau dinyanyikan pada acara-acara santai, mengiringi senam pagi dan yang sejenis. Menurutku sangat tidak layak dinyanyikan pada acara adat pernikahan orang batak.

Ketika lagu cucak rowo muncul, lagu ini juga masuk ke dalam ritual adat pernikahan adat batak. Saya semakin tidak habis pikir. Sama seperti poco-poco, saya tidak menilai lagu ini jelek, tapi harus pada tempatnya. Coba kita lihat sepenggal syairnya:

Kucoba-coba melempar manggis

Manggis kulempar mangga kudapat

Kucoba-coba melamar gadis

Gadis kulamar janda kudapat.

Selain kedua lagu diatas masih banyak lagi lagu-lagu yang tidak layak telah mengotori kesucian ritual pernikahan adat batak. Lagu anak medan, jamila bahkan lagu pos ni uhur juga tidak cocok dinyanyikan pada acara pernikahan orang batak. Kadang saya berpikir tak usah sajalah ada lagu-lagu pengiring di acara adat batak. Toh dulu di awal mulanya adat itu tidak diiringi oleh lagu. Kalaupun ada pengiring hanya alunan musik dari seperangkat alat musik gondang.

Memang adat itu berkembang sejalan dengan perkembangan lingkungan sekitarnya. Sering kali pengaruh dari luar juga tidak terhindarkan, tetapi janganlah pengaruh yang jelek yang dimasukkan. Kalau memang pengaruh luar mau dimasukkan, buatlah acara adat itu diiringi oleh musik orkestra yang bunyinya begitu indah di telinga. Iringilah dengan lagu-lagu seperti The Prayer dan Endless Love. Saya yakin acara itu akan semakin syahdu dan bermakna.

Kembali ke acara yang saya hadiri hari Sabtu yang lalu. Saya menemukan sesuatu yang berbeda dengan acara yang sama yang saya ikuti sebelumya. Ketika seorang tulang dari pihak perempuan meminta lagu anak medan untuk mengiringi mereka menyematkan ulos kepada mempelai, seorang bapak-bapak yang duduk di barisan raja parhata berdiri dan mengangkat tangan lalu menyuruh pemain musik mengganti lagu anak medan tersebut. Sejak kejadian itu tidak pernah lagi pemain musik memainkan lagu yang aneh-aneh. Salut buat si bapak.

Di acara kali ini memang masih ada ibu-ibu yang membawa plastik, masih ada beberapa orang yang berjoget di kanan kiri pentas, tetapi tidak ada lagi lagu poco-poco, cucok rowo dan sejenisnya. Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik. Saya jadi punya harapan suatu saat kelak adat batak dilakukan benar-benar sesuai dengan esensinya. Biarlah semua ksesoris yang mengotori kesakralan ritual adat itu bisa segera dibuang. Biarlah acara adat yang sekarang ini yang berbiaya super mahal hanya karena bunga-bunga itu segera berganti dengan adat batak yang sakral penuh dengan esensi yang sesungguhnya dengan biaya murah, sehingga tidak ada lagi anak muda batak yang hanya mangalua karena tidak punya duit beratus juta. Ditunggu kebijaksanaan dan hati nurani para orang tua yang mengaku pejebat elit di adat batak (raja parhata dan para pengurus punguan-punguan marga).

Hari telah menjelang malam ketika kami mangulosi pengantin, tapi saya bahagia karena bertemu dengan handai tolan, menambah kenalan dan terlebih dengan adanya tanda-tanda perbaikan pada prosesi adat batak.

Categories: Aku dan Pencipta | Tinggalkan komentar

Ai Na Ro Do Par Jakarta ?

Di Rumah Oppung ketika Tulang pulang dari Jakarta

Di Rumah Oppung ketika Tulang pulang dari Jakarta

Sekitar tahun 80-an, sudah ada beberapa orang dari kampungku Sipanganbolon yang merantau ke Jakarta. Bayanganku kala itu, orang yang merantau itu menjadi orang kaya setelah tinggal di Jakarta. Hal ini disebabkan penampilan yang mereka tunjukkan ketika mereka pulang kampung. Pakaian bagus-bagus, kulit putih mulus, beda jauh dengan kulit kami yang hitam legam dibakar matahari. Belum lagi dengan berbagai bawaan yang mereka bawa dengan koper-koper besarnya. Demikian juga dengan anak-anak mereka yang yang wajahnya tidak lagi marsuhi-suhi (bersegi, wajah kampungan khas orang batak), sehingga kala itu ada istilah “Ai na ro do Par Jakarta?”, terjemahan bebasnya Orang Jakarta datang ya?.

Kala itu setiap kali ada saudara yang pulang dari Jakarta selalu menghadirkan kegembiraan tersendiri. Kehadiran mereka selalu menjadi berita besar. Para orang tua kami akan datang ke rumah tetangga yang anaknya pulang dari jakarta tersebut. Tentu saja kami anak-anaknya tidak mau ketinggalan, walaupun orang tua melarang kami ikut. Alasannya nanti bikin ribut, atau kami harus mengerjakan pekerjaan lain di rumah. Tetapi dengan berbagai cara, kami anak-anak selalu berhasil sampai di rumah par Jakarta tersebut. Salah satu alasan utama kami adalah agar ikut mencicipi dodol garut. Dodol garut yang menjadi oleh-oleh wajib yang dibawa Par Jakarta itu menjadi penganan yang nikmatnya tiada tara dan hanya akan kami temukan ketika ada  Par Jakarta yang pulang kampung. Selain itu kami juga pengen difoto. Biasanya par Jakarta membawa kamera foto dan itu adalah barang yang sangat langka di kampung kami kala itu. Jadi kalau wajah kita ikut nampang di foto, walaupun hanya terjepit di belakang wajah-wajah para orang tua, itu sudah menjadi prestasi yang sangat membanggakan. Lebih membanggakan dibanding dapat juara satu di hari kenaikan kelas.

Tidak hanya anak-anak yang bergembira bila par Jakarta pulang kampung. Pengurus gereja juga ikut merasakannya. Biasanya par Jakarta akan memberikan persembahan minggu yang jauh lebih besar dibanding para jemaat setempat. Selain persembahan yang besar, par Jakarta juga akan memberikan uang ucapan syukur yang lebih kami kenal dengan “Sihamauliateon”. Ucapan syukur ini akan dibacakan pada saat warta jemaat atau “tingting”. Sintua yang membaca warta jemaat biasanya akan membaca demikian: “Jinalo do hamauliateon sian amanta Anu, anak ni ompu polan ala hipas-hipas do nasida diramoti Tuhan di pardalanan sian Jakarta sahat tu huta on. Dipasahat nasida tu huria xxx ribu rupiah, tu guru huria xxx ribu rupiah, tu parhalado xxx ribu rupiah, tu sintua lingkungan xxx ribu rupiah dohot tu diakoni sosial xxx ribu rupiah. Punguma sude xxx ribu rupiah. Sungguh mengagumkan memang par Jakarta ini.

Par Jakarta sering kali menginspirasi para anak-anak di kampung kami. Saya tidak tau persis alasannya mengapa perantau ke tempat lain seperti par Kalimantan, par Batam apalagi par Medan atau par Siantar tidak menginspirasi kami anak-anak kala itu. Par Jakarta menjadi sesuatu yang luar biasa bagi kami. Mungkin pelajaran di sekolah ikut membentuk bayangan kami kalau Jakarta itu adalah sebuah tempat yang paling membahagiakan. Ada istana presiden, ada kantor menteri-menteri, ada Monas dan banyak lagi. Walaupun kami hanya melihat dari gambar hitam putih di buku pelajaran SD, cerita para guru dan sesekali nonton TVRI hitam putih di tv tetangga, jakarta menjadi tidak asing di benak kami. Namun Jakarta yang ada di benak kami adalah jakarta yang serba bagus.

Hari ini saya sudah menjadi salah satu dari par Jakarta itu, walaupun saya tinggal di Bekasi. Saya tidak tahu lagi apakah istilah “Ai na ro do par Jakarta?” masih ada di kampung, karena ketika saya pulang kampung, saya tidak lagi mendengarya. Namun yang pasti setiap kali pulang kampung, saya selalu mengusahakan untuk membawa dodol garut. Saya sudah tahu kalau dodol garut bukanlah oleh-oleh khas Jakarta, tetapi kenangan masa kecil menikmatinya terlalu manis untuk dilupakan.

Jakarta memang tidak sesempurna bayangan saya kala masih kecil, orang-orang yang datang ke jakarta juga tidak otomatis menjadi orang kaya, bahkan sering kali membawa mereka tinggal di gang-gang sempit yang kumuh, tetapi bayangan masa kecil itu yang begitu kuat telah membawa saya sampai ke ibu kota ini.

Masihkah  Ai na ro do par Jakarta?????

Categories: Aku dan Pencipta | 3 Komentar

Situakniloba (Boto Lungun Anakku)

situakniloba

Ketika duniaku masih sebatas pandang antara Dolok Sitanggurung dan Binanga Naborsahan, saya merasakan dunia yang indah dan menyenangkan. Dolok Sitanggurung adalah bukit paling tinggi di kampungku, sedangkan Binanga Naborsahan adalah satu-satunya sungai di kampungku. Bermain bersama teman-teman se usiaku adalah kesukaan yang tiada tara. Bermain kelereng, patuk lele, martumbang, marpisse, marjukkit, marsitekka, margala, martar (sejenis petak umpet), marsiada, marlupuk, marpakpak dan masih banyak lagi merupakan permainan yang sering kami mainkan. Selain permainan ada juga pekerjaan dan petualangan yang tidak kalah menyenangkan seperti marmahan, marpikket, marsoban dan yang lain. Benar-benar dunia rasanya hanya milik saya dan teman-teman sepermainanku.

Dengan berjalannya waktu, usiapun bertambah dan duniakupun semakin luas. Selain Dolok Sitanggurung ternyata ada juga Dolok Nagodang, Bangun Dolok, dolok simarbalatuk dan Dolok Simanukmanuk bahkan dolok yang belum aku tau namanya. Selain Binanga Naborsahan ternyata ada juga Binanga Sisera-sera. Selain dolok dan binanga ternyata ada juga Tao Toba. Selain kampungku Sipanganbolon ternyata ada juga kampung yang lain, Girsang, Sibisa, Aeknatolu, bahkan ada kota Parapat dan Pekan Tigaraja. Dunia bukan lagi hanya milikku dan teman sepermainanku. Ternyata dunia milik banyak orang, termasuk orang-orang asing yang tidak aku kenal, bahkan milik pamangus yang sangat kutakuti.

Hidup tidak lagi sesederhana bermain kelereng atau marsoban ke Sithoan. Mengayuh cangkul sepulang dari sekolah menjadi rutinitas yang tidak mungkin dihindari. Waktu bermainpun harus dikurangi dan bahkan lebih sering harus dilupakan. Sawah dan sekolah menjadi semacam jeruji yang menjauhkanku dari arena bermain. Dunia yang kutau memang semakin luas, tetapi dunia yang bisa kujangkau semakin sempit. Semakin banyak aturan tidak tertulis yang tidak boleh dilanggar.

Dunia sekolah telah membuka mataku, bahwa ada dunia yang lebih besar di luar sana. Dunia yang menjanjikan masa depan yang lebih baik yang penuh dengan situakniloba (madu). Aku ingin juga ikut menikmati situakniloba itu, tetapi apa daya untuk sementara aku tak mampu. Perlu pengorbanan yang luar biasa menuju ke sana dan sekolah adalah satu-satunya jalan bagiku.

Tidak mudah memang menjalani rutinitas yang menjemukan dan melelahkan itu, sekolah dan sawah,  tetapi selalu ada orang-orang yang menyemangati. Bapakku bukanlah laki-laki paling pintar sedunia, tetapi nasehat dan pandangan-pandangan serta kisah perjuangannya di masa lalu begitu kuat memotivasi aku untuk terus berjuang. Ibuku bukanlah perempuan paling baik sedunia, tetapi cinta kasihnya yang begitu besar dan tulus selalu mengingatkanku untuk tidak menyerah. Abang dan kakakku bukanlah orang-orang terhebat sedunia, tetapi kepatuhan mereka kepada kedua orang tua kami serta kerja keras mereka menggerakkan kakiku untuk tetap melangkah menuju dunia sana yang penuh dengan situakniloba itu.

Motivasi, teladan, semangat dan kasih sayang dari mereka yang kukasihi membangkitkan sebuah mimpi besar. Mimpi suatu saat akan mewujudkan harapan-harapan mereka. Mimpi suatu saat aku akan menghapus air mata dari pipi mereka. Kedengaran berlebihan memang, tetapi itulah adanya dalam jiwa mudaku.

Sekali lagi perjalanan itu memang tidak mudah. Sering kali aku kelelahan dan ingin berhenti dan kembali ke duniaku yang sederhana, sesederhana main kelereng dan marsoban ke Sitahoan, tetapi mimpi itu terlalu besar untuk dilupakan. Mimpi itu begitu kuatnya menarik aku dari setiap kelelahanku. Setiap kali aku menatap wajah orang yang kukasihi, mimpi itu semakin besar dan semakin besar hingga mimpi itu bagaikan roh yang telah merasuk kedalam sanubariku.

Kini, dunia sana yang dulu kutau penuh dengan situakniloba itu, sebagian telah menjadi duniaku. Namun tak sepenuhnya benar dunia baru ini penuh dengan situakniloba. Mimpi yang dulu merasuki sanubariku masih aku simpan, walaupun sebagian dari yang kukasihi telah pergi sebelum harapan mereka kuwujudkan dan sebelum air mata dari pipi mereka aku hapus. Pingin rasanya memanggil mereka kembali, mewujudkan harapan-harapan mereka, menghapus air mata dari pipi mereka dan menikmati situakniloba ini bersama mereka. Kadang di kesunyian air bening menggantung di kelopak mata ketika wajah mereka melintas di angan. Mengingat semua perjuangan dan kasih sayang mereka hingga aku bisa sampai sejauh ini.

Mereka yang telah pergi tidak mungkin kembali, tetapi perjuangan tidak boleh berhenti. Mimpi harus diwujudkan kepada mereka yang masih ada dan kepada kekasih baru yang kini menjadi pengganti mereka yang telah pergi.

Tersenyumlah kalian kekasih yang telah pergi ke dunia sana, walaupun saya belum sempat menghapus air mata kalian. Aku yakinkan dalam hati ini untuk tetap mewujudkan harapan-harapanmu yang dulu sayup-sayup kudengar dalam doamu kepada Pencipta. Wajah kalian akan tetap menjadi penyemangat dalam perjalanan ini.

Dunia kini tidak lagi sebatas Dolok Sitanggurung dan Binanga Naborsahan, namun sudah bisa digenggam dan dimasukkan ke dalam kantong celana. Dulu, hanya dunia sana yang penuh situakniloba, kini situakniloba ada dimana-mana. Tetap semangat, bekerja keras dan mari menikamti situakniloba dimanapun kita berada.

Categories: Aku dan Pencipta | Tinggalkan komentar

Masa Depan yang Lebih Baik

Aurora Masniari Sinaga

Aurora Masniari Sinaga

Masa lalu adalah kenangan
Masa kini adalah kenyataan dan
Masa depan adalah harapan

Ungkapan di atas sering saya baca di berbagai status, tulisan atau komentar dari banyak orang di internet. Berbicara mengenai masa lalu, banyak orang yang beranggapan kalau masa lalu adalah sesuatu yang harus dilupakan bahkan mungkin dibenci. Menurut mereka, membicarakan atapun hanya sekedar mengenang masa lalu akan menghambat dirinya maju menuju masa depan. Orang-orang seperti ini menganggap segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu adalah kemunduran, kekunoan, bahkan kemelaratan. Masa kini, masa depan, modernitas dan sebagainya adalah dambaan mereka. Mereka tidak mau ketinggalan dengan segala hal baru. Mulai dari informasi terbaru, produk terbaru, gaya terbaru dan semua hal yang baru-baru. Setiap kali muncul produk yang baru mereka segera meninggalkan produk yang lama. Bahkan mereka ini sangat mengagumi semua yang instan, termasuk mie instan tentunya.

Di lain pihak banyak juga orang yang sangat mengagung-agungkan masa lalu. Mereka-mereka ini menganggap masa kini lebih buruk dari masa lalu. Masa lalu jauh lebih baik, lebih disiplin, lebih bermoral dan sebagainya. Orang-orang ini selalu menolak hal-hal baru. Mereka beranggapan bahwa hal-hal baru itu adalah musuh yang akan merusak kehidupan mereka. Hal-hal baru adalah penyakit yang akan mengganggu kesehatan mereka. Mereka ini akan berusaha menjalani hidup secara tradisional. Merka menghindari produk-produk yang instan, walaupun mereka sesekali juga mau memakan mie instan dikala tidak ada pilihan lain. Mereka ini lebih suka membaca koran daripada membuka detik com. Mereka ini lebih suka jalan kaki atau naik sepeda dari pada naik motor. Mereka ini lebih suka belanja ke pasar inpres daripada ke carefour. Mereka ini lebih suka minum kopi di lapo dari pada di Starbucks atau hanya sekedar singgah di J Co. Mereka ini lebih memilih membeli ayam di pasar, memotongnya lalu menggorengnya sendiri di rumah daripada makan di KFC atau McD.

Mungkin perbandingan di atas terlalu berlebihan, tetapi saya yakin ke dua tipe manusia di atas pasti ada. Saya sendiri tidak ingin menjadi salah satu diantara mereka. Saya tak ingin menjadi orang yang membeci masa lalu lalu memuja masa depan atau yang sebaliknya. Tetapi saya juga tidak ingin menjadi orang yang tidak berpendirian karena tidak memilih salah satunya. Saya pikir ini bukanlah pilihan benar salah sepeti soal-soal yang pernah kujumpai ketika saya masih duduk di bangku sekolah.

Bagi saya, masa lalu, masa kini dan masa depan adalah sebuah rangkaian yang utuh dan tidak terpisahkan antara yang satu dengan yang lain. Semua manusia punya masa lalu, masa kini dan masa depan, walapun pasti setiap orang punya kenangan yang berbeda dimasa lalu, kenyataan yang berbeda dimasa kini dan harapanyang berbeda di masa depan.

Masa lalu merupakan sebuah masa yang menghasilkan keberadaan seseorang di masa sekarang. Mungkin banyak orang yang kurang senang dengan masa lalunya, atau bahkan membencinya. Mungkin ada orang yang menyesal telah melakukan suatu kesalahan di masa lalu. Semua itu sah-sah saja. Masa lalu memang tidak bisa dirubah, bahkan sang pencipta sekalipun tidak mampu merubahnya, tetapi masa lalu menjadi pelajaran berharga menuju masa depan yang lebih baik. Melupakan masa lalu tidak menjamin masa depan yang lebih baik. Melupakan masa lalu kemungkinan besar akan mengulang kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Secara berkala masa lalu harus dikenang dan dijadikan pelajaran untuk menambah kemampuan menuju masa depan yang lebih baik. Namun mengenang masa lalu secara berlebihan juga tidak baik. Jangan sampai terjebak di masa lalu, sehingga kita susah bergerak menuju masa depan.

Masa kini adalah kenyataan. Oleh karena itu setiap orang harus melakukan sesuatu pada masa kini untuk menghasilkan masa depan yang diinginkan. Masa depan yang baik adalah buah dari kerja hari ini. Tidak mungkin masa depan seseorang menjadi lebih baik bila hari ini dia tidak melakukan apa-apa. Namun demikian, kerja keras hari ini belum tentu menghasilkan masa depan yang lebih baik. Masa depan yang baik akan dihasilkan dari kerja keras hari ini yang dilakukan dengan benar. Bekerja keras dengan benar adalah bekerja berdasarkan pelajaran-pelajaran akan masa lalu. Masa lalu adalah pengalaman berharga yang menjadi guru paling ampuh untuk melangkah menuju masa depan.

Ayugeera Tiar Sinaga

Ayugeera Tiar Sinaga

Masa depan adalah harapan. Semua manusia normal pasti mengharapkan masa depan yang lebih baik. Hanya orang gila yang tidak ingin hidupnya lebih baik di masa depan. Lebih dari hanya sekedar berharap, banyak orang bermimpi, terobsesi bahkan tergila-gila akan masa depan yang luar biasa. Harapan akan hidup yang lebih baik inilah yang menyemangati seseorang untuk bekerja keras. Harapan akan masa depan yang lebih baik inilah yang menyemangati seorang petani untuk selalu bangun pagi, berangkat ke sawah, menanam dan memupuk tanamannya. Harapan akan masa depan yang lebih baik inilah yang menyemangati seorang ibu berangkat ke pasar berjualan sayuran. Harapan akan masa depan yang lebih baik inilah yang menyemangati orang tua yang bersusah payah menyekolahkan anaknya. Harapan akan masa depan yang lebih baik ini jugalah yang menyemangati saya untuk selalu bangun dini hari, berlari mengejar bis Mayasari P9A, berdiri berdesakan di dalam bis tak ber-AC itu menuju kantor setiap hari. Masa depan yang lebih baik yang ingin saya capai bukan hanya untuk saya pribadi, tetapi untuk keluarga kecil saya, terlebih masa depan kedua bidadari kecil di rumah kami. Masa depan menjadi semacam kado ulang tahun yang akan diterima sebagai imbalan untuk setiap tindakan di masa lalu dan di masa kini.

Hari ini tidak lagi penting memperdebatkan mana yang lebih baik mengutamana masa lalu, masa kini, atau masa depan. Yang penting sekarang adalah bagaimana mengenang masa lalu dengan segala kelebihan dan kekurangannya menjadi pelajaran dan harapan akan masa depan yang lebih baik menjadi penyemangat agar hari ini kita bekerja keras dengan benar dan penuh semangat.

Categories: Aku dan Pencipta | Tinggalkan komentar

Villa Hubers

Hari itu Sabtu 18 Augustus 2012. Hari sangat cerah bahkan sedikit gerah ketika phanter biru melaju di jalan tol yang sepi. Kami berdesakan bersama setumpuk barang bawaan dalam panter biru itu. Segala harapan akan kenikmatan kawasan puncak mengalahkan kesesakan dalam mobil. Kerinduan akan berkumpul bersama keluarga besar begitu menggelora di dalam dada. Hanya sekitar satu jam kami sudah tiba di daerah puncak. Hari ini jalanan benar-benar lancar. Mungkin para pemudik yang kemarin mensesaki seluruh jalanan ke luar kota Jakarta telah tiba dikampung halaman.

Namun butuh sedikit waltu lebih untuk mencapai lokasi yang dituju. Sebuah villa bernama Hubers. Dari namanya, villa ini menggambarkan gaya eropa yang mempesona. Mendengar namanya sudah terbayang bangunan klasik yang pernah kulihat di pilim-pilim. Jalanan menuju villa sangat kecil. Kami harus bertanya beberapa kali ke penduduk setempat untuk sampai di sana.
Tiba disana pohon-pohon pinus berbaris menyambut kedatangan kami. Aroma daunnya bersama segarnya udara puncak mengucapkan selamat datang. Hamparan rumput yang luas menggoda kaki untuk bermain di atasnya bak anak kecil. Sebuah bangunan tua dua lantai berdiri kokoh dipagari oleh pohon-pohon pinus itu. Dindingnya berwarna merah bata dan atapnya genteng beton. Inilah villa Hubers. Walaupun tidak semegah yang dibayangkan sebelumnya, namun yahhh..cukup menariklah. Mudah-mudahan dalam tiga hari ini akan banyak tercipta kegembiraan di sini. Akan banyak tertinggal kenangan-kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan.
Ketika kami tiba, disana sudah ada keluarga Tono, Roni, Velin dan Melani. Anak-anak sudah pada bermain, bahkan sudah ada yang berenag, sementara ibu-ibu berbenah di dapur dan bapak-bapak sedang bermain kartu di teras samping. Kami memindahkan semua barang yang kami bawa ke dalam kamar depan, karena mobil yang kami tumpangi harus kembali ke Bekasi. Setelah barang-barang dipindahkan kami langsung bergabung denga aktivitas saudara-saudara yang lebih dulu tiba.

Tidak lama setelah kami tiba, perut sudah terasa lapar. Nasi hangat, ikan teri sambal, soup bakso, ikan mas arsik dan babi kecap langsung menggoda untuk disantap. Tanpa berlama-lama menu-menu lezat itu telah berpindah ke dalam perut. Entah sihir apa yang ada di daerah puncak ini, sehingga makanan yang sama terasa lebih nikmat di sini. Porsi makankupun kali ini lebih besar dibanding di rumah, bahkan anak-anak masih menambah porsi makan mereka dengan mi rebus yang mereka masak sendiri-sendiri. Barangkali udara sejuk inilah sihir itu.

Selesai makan kami duduk-duduk di teras depan. Dari gerbang datang seorang pedagang pisang. Ia memikul dua keranjang pisang. Satu jenis pisang ambon dan satu jenis pisang kepok. Dengan terlebih dulu melakukan proses tawar-menawar yang cukup alot akhirnya pisang itu kami beli. Kalau saya tidak lupa harganyasemua pisang itu dua puluh ribu rupiah. Ternyata murah juga. Dia berjanji besok akan datang lagi membawa talas.

Pedagang pisang meninggalkan villa, keluarga Benni tiba. Mereka hanya bertiga menaiki avanza hitam. Tanpa menunggu lama mereka langsung makan. Sementara mereka makan, saya bersama beberapa anak menuruni tangga di halama belakang menuju kolam renang. Disana sudah ada beberapa anak yang sedang berenang. Mereka sangat menikmati bermain di kolam itu. Kolam renang ini cukup unik. Air kolam diperoleh dari air gunung. Melalui sebuah pancuran kecil air masuk ke dalam kolam. Kolam berbentuk lingkaran dan di sisi yang berseberangan dengan pancuran diletakkan sebuah perosotan. Kedalaman air dalam kolam kira-kira 30 cm, sehingga cukup aman buat anak kecik sekali pun. Yang paling unik dati kolam ini adalah diameternya tidak ebih dari 2m…. hhhhhh… Walaupun demikian imut… yahhh cukuplah untuk tempat anak-anak berendam dan mereka sangat menikmatinya. Tadinya saya ingin berenag dikolam itu, tetapi karena begitu imut, saya mengurungkan niat itu.


Matahari terasa bergerak lebih cepat di sini. Tidak terasa hari sudah sore ketika kami meninggalkan kolam renang yang imut itu. Kami kembali ke villa dan dua mobil memasuki halaman. Mereka adalah keluarga oppung Gita. Dengan cipika-cipiki kami menyambut kedatangan mereka. Mereka membawa rombongan yang banyak dan barang yang banyak pula. Oppung gita langsung memeriksa semua perlengkapan, terutama perlengkapan dapur. Ia memastikan semua barang dan peralatan yang kami butuhkan sudah tersedia. Karena dua kamar yang ada di dalam villa sudah penuh, mereka memilih kamar belakang yang ukurannya lebih kecil.


Menghabiskan waktu sore hari kami berkumpul di halaman depan, dibawah naungan pohon-pohon pinus, di atas gelaran tikar pandan. Ada yang tidur-tiduran dan ada yang duduk-duduk. Kami berbagi cerita dan tertawa. Ternyata banyak juga yang memiliki koleksi cerita lucu. Mulai dari kisah cinta sampai cerita masa kecil. Cerita sambung menyambung dari yang satu ke yang lain. Setiap akhir cerita kami pasti tertawa. Semua saling menunjukkan kehebatan cerita masing-masing. Sore yang penuh dengan kegembiraan. Sementara itu sebagian anak bermain bola di halaman samping dan sebagian lagi bermain ayunan.

Hari mulai gelap dan kamipun harus bubar dari halaman. Masih banyak waktu besok untuk melanjutkan cerita-cerita, pengalaman dan perbincangan yang menggembirakan itu. Anak-anak harus mandi. Ibu-ibu harus mempersiapkan makan malam. Semua perut yang sudah lapar lagi harus segera diisi kembali. Nanti malam akan ada kebaktian yang akan dipimpin ompung Gita doli, jadi semua harus berkumpul di ruang tengah Villa sebelum jam 8 malam.

Tepat jam delapan kebaktian dimulai. Sebagian tidak ikut kebaktian. Sebagian anak-anak sudah tidur. Kebaktian berjalan dengan khikmad, hening dan santun. Lagu pujian dikumandangkan. Firman Tuhan dibacakan. Firman Tuhan dipilih dari Kitab Amsal. Firman ini merisi tentang ajaran untuk berhikmad. Kitab Amsal ini dipilih untuk mengingatkan kita semua untuk melakukan kebaikan dan mengejar ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Doa-doa dipanjatkan. Doa permohonan agar semua anggota keluarga besar kita baik yang di kampung, maupun yang di perantauan selalu dalam lindungan Sang Pencipta. Kebaktian berakhir dengan doa Bapa Kami.

Kebaktian berakhir, namun kebersamaan masih berlanjut. Obrolan yang terputus tadi sore dibawah naungan pohon pinus kembali berlanjut di ruang tengah ini. Namun kali ini yang melanjutkan obrolan itu sebagian besar adalah perempuan, sementara sebagian laki-laki pindah ke teras belakang bermain kartu. Permainan yang mereka lakukan mereka sebut dengan permainan bento. Dulu waktu saya kuliah di Medan, permainan itu dikenal dengan permainan leng.

Malam telah larut ketika semua mengambil posisi tidur. Semua lantai villa berubah menjadi tempat tidur. Dikamar, di ruang tengah, di ruang atas di kamar belakang bahkan di bangunan kecil di ujung halaman menjadi tempat tidur. Setelah saya hitung, ternyata kami semua berjumlah 45 orang mulai dari bayi sampai ompung-ompung. Bagus juga kami memilih Villa yang tidak begitu besar, sehingga kami bisa tidur berdesak-desakan. Jadinya kami terhindar dari dinginnya angin malam kawasan puncak.

Malam berganti pagi, di luar masih gelap, tetapi beberapa orang sudah bangun. Ada yang mempersiapkan sarapan pagi di dapur, ada yang olah raga mengelilingi villa, ada yang lagi duduk bermalas-malasan di teras, ada yang lagi nongkrong di WC dan ada yang lagi antri untuk nongkrong di WC. Memang ada sedikit masalah ketika pagi hari. Untuk melayani kami yang berjumlah 45 orang hanya ada 2 WC. Bisa dibayangkan betapa panjang antrian di depan pintu WC. Apalagi karena kemarin siang dan malam kami makan banyak, waktu nongkrong menjadi lebih lama.

Pagi ini menu sarapan kami adalah nasi goreng spesial pakai telor, nasi putih, ikan teri sambal tomat, ikan asin goreng kripik dan minumnya adalah teh manis hangat. Wawww… nikmatnya. Sambil sarapan kami melanjutkan cerita-cerita lucu yang tidak ada habisnya. Semua tertawa, semua gembira. Tidak lama semua menu sarapan pagi habis masuk ke dalam perut, bahkan anak-anak ada yang masih menambah dengan mie rebus yang dimasak sendiri. Ada 3 dus mie rebus yang kami sediakan dan kini hanya tinggal kurang dari separoh.

Anak-anak seakan tidak ada capeknya. Selesai sarapan mereka langsung bermain bola. Anak kecil sampai dengan bapak-bapak ikut bersama-sama bermain bola. Bermain bola keroyokan, namun portif. Adegan-adegan lucu sering terjadi ketika anak kecil yang menendang bola dan itu membuat semua pemain tertawa. Ada 4 orang pemuda bernadan gelap yang belum aku kenal ikut dalam permainan bola ini. Tadinya saya kira mereka pemuda setempat, ternyata mereka adalah tetangga Roni. Mereka datang tadi malam naik motor. Nantinya saya jadi tahu kalau satu dari ke empat pemuda itu ada yang lagi menaksir satu dari anggota keluarga kami. Siapakah dia…?

Hari ini kami berencana untuk melaksanakan ibadah minggu, karena hari ini memang hari minggu. Saya berharap dalam acara ibadah minggu ini akan semakin banyak makna, hikmah, atau apalah namanya yang kami peroleh selama di puncak ini. Akan semakin akrab kekeluargaan keluarga besar kami. Di bayangan saya, setelah kebaktian ini akan ada kesempatan bagi kami untuk mengutarakan isi hati kami dengan lebih formil. Disinilah waktunya kami membagikan kebanggaan kami akan keluarga besar ini. Disini juka kami akan mengoreksi atau memberikan masukan untuk perbaikan punguan ini. Namun karena alasan yang tak kupahami acara ibadah minggu tidak jadi dilaksanakan. Kebaktian minggu yang tidak jadi dilaksanakan tidak mengurangi arti kebersamaan kami di Villa Hubers ini.
Bersambung…………………..

Categories: Aku dan Pencipta | Tinggalkan komentar

Berita Itu Menyentak Jantungku

Kemarin aku dengar lagi salah satu anggota keluarga kami telah menikah dengan seorang muslim. Kembali jantungku tersentak, walaupun tudak sekuat sentakan-sentakan sebelumnya. Mungkin karena semakin sering saya mendapat berita yang sama. Jantungku semakin terbiasa mendapatkan kabar seperti ini. Pertama sekali aku mendapat kabar seperti ini sekitar empat belas tahun yang lalu, duniaku rasanya mau kiamat. Berita itu bagiku lebih buruk dibandingkan dengan berita meninggalnya bapakku dua tahun sebelumnya. Berhari-hari aku merasa berduka (jauh lebih lama dari duka sepeninggal bapakku) tanpa ada yang menghibur. Semuanya terasa sesak mengganjal di rongga dadaku. Sampai hari ini aku belum bisa berdamai seratus persen dengan kekecewaan itu. Hari ini memang perasaanku tidak lagi sedahsyat kala itu. Hari ini memang dadaku tidak sampai sesak walau napasku sejenak tertahan. Hari ini memang saya tidak sampai berduka. Namun tetap saja berita kali ini menggangu pikiranku. Berita kali ini membangkitkan kembali ingatan akan berita-berita yang sama .

Mungkin bagi banyak orang apa yang saya rasakan kedengaran terlalu berlebihan. Bukankah seharusnya aku ikut bergembira, karena telah banyak anggota keluarga besar kami yang berasimilasi dengan agama yang berbeda di negara yang berbinneka tunggal ika ini. Bukankah seharusnya aku ikut berbahagia karena sebagian saudaraku sudah menerapkan demokrasi dan toleransi yang sangat tinggi dalam kehidupannya yang paling pribadi. Bukankah seharusnya aku mendorong agar saudara-saudaraku yang lebih muda lebih banyak lagi mengikuti kakak-kakaknya.

Tidak…! Sekali lagi tidak…!

Sesungguhnya aku tidak pernah membenci atau bahkan memusuhi orang yang tidak seagama denganku. Aku sangat menghormati semua agama dan aliran kepercayaan, bahkan sejak kecil aku sudah bergaul dan bersahabat dengan sahabat-sahabat terbaik dari berbagai agama. Ada yang beragama Islam, Hindu, Budha, Parmalim dan juga yang tidak beragama. Aku tidak pernah menganggap agamaku lebih baik dari mereka atau sebaliknya. Tapi mengapa aku belum rela anggota keluarag kami menikah dengan agama lain selain kristen? Hal ini bukanlah karena aku menganggap saudaraku yang menikah dengan agama selain kristen kelak tidak akan masuk sorga. Menurutku agama tidak membawa seseorang masuk sorga atau masuk neraka, tetapi hubungan pribadi seseorang dengan Sang Maha Penciptalah yang menentukan.

Sekali lagi mengapa sampai saat ini aku tidak rela anggota keluarga kami menikah dengan orang yang agamanya bukan kristen? Tentu saja banyak alasan yang menyebabkannya. Keluarga besar kami adalah keluarga Batak Kristen yang tentu saja menganut banyak sekali kearifan budaya suku Batak dan ajaran Kristen. Salah satu kearifan budaya itu adalah keharusan menghormati orang tua dan kearifan ini juga sejalan dengan ajaran kristen dalam “Patik Palimahon: ikkon pasangaponmu natorasmu”(Harus menghormati orang tua).

Aku merasakan sendiri sejak kecil bagaimana keharusan menghormati orang tua ini diterapkan. Keharusan menghormati orang tua ini diterapkan bukan hanya sepihak dalam artian hanya enak di orang tua saja. Namun aturan menghormati orang tua ini telah memaksa orangtua bertindak bahkan berjuang sehingga orangtua layak dihormati. Orang tua bahkan berjuang mati-matian demi kebaikan anak-anaknya sehingga kelak anak-anaknya juga menjadi anak-anak yang terhormat. Dalam hal ini yang dimaksudkan terhormat bukanlah gila hormat, tetapi sejahtera, bermartabat dan bisa menolong orang lain, sehingga tidak dilecehkan orang lain. Aku merasakan sendiri bagaimana orang tua kami berjuang mati-matian agar kami anak-anaknya bisa sekolah. Menurut orang tuaku kala itu pendidikan (sekolah) merupakan cara terbaik memperbaiki kehidupan anak-anaknya.

Orang tuaku dan kebanyakan orang tua batak yang tinggal di kampung adalah pekerja keras. Kerja keras mereka semata-mata hanyalah untuk anak-anaknya. Mereka tidak pernah mengatakan kepada anak-anaknya agar kelak anak-anak membayar segala jerih payang mereka. Mereka sudah sangat bahagia bila kelak mengetahui anaknya sudah berhasil sesuai dengan alur kehidupan yang mereka pahami. Untuk semua jerih payah orang tua itu haruskah sianak mengabaikan…? Tentu saja tidak. Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh si anak untuk kebahagiaan orang tuanya..? Sebagaimana yang saya rasakan dan juga terjadi pada banyak orang batak dan kristen pula, kebahagiaan yang dirasakan orang tua dari seorang anak menurut alur kehidupan yang mereka pahami dimulai sejak sianak itu lahir. Orang tua akan sangat bahagia mendengar tangisan pertama anaknya, menggendong sianak dibabtis di altar gereja, mengantarkan anaknya ke sekolah dengan seragam sekolah pertamanya, menerima kertas ulangan anaknya dari sekolah, menyaksikan anaknya “marayat-ayat” di malam natal, mendengar si anak lulus dari sekolahnya, menemani si anak mengikrarkan iman kesetiaannya dalam upacara sidi, Mengetahui anaknya mendapat pekerjaan, menghantarkan anaknya diberkati pendeta dalam pernikahan kudus, menggendong cucu yang lahir dari anak-anaknya dan banyak lagi. Semua itu adalah hal yang membahagiakan orang tua dan paling membahagiakan dibandingkan dengan materi. Semua itu adalah hal yang alamiah dan tidak susah diberikan oleh si anak kepada orang tuanya.

Dari sekian banyak hal yang membahagiakan orangtua, salah satunya adalah menyaksikan anaknya menikah. Orangtua batak dan kristen pula sebagaimana orangtua di keluarga kami sangat berbahagia ketika si orang tua mengantarkan anaknya ke altar gereja untuk mengikuti upacara pernikahan kudus di hadapan pendeta. Kebahagiaan ini akan berlanjut ketika orangtua memberikan ulos ke anaknya (bila putrinya yang menikah) atau menerima ulos (bila putranya yang menikah) pada acara adat pernikahan anaknya.
Sebaliknya orangtua akan sangat sedih dan kecewa ketika mengetahui anaknya menikah tetapi tidak dilangsungkan di gereja sehingga mereka tidak mungkin menghadirinya. Betapa sedihnya seorang ibu tidak dapat memeluk putrinya pada upacara pernikahan karena pernikahan itu dilakukan di hadapan penghulu. Betapa kecewanya seorang bapak tidak dapat menjadi orangtua pada pernikahan anaknya karena sianak mengucapkan ijab kabul. Orang tua batak dan kristen pula mana yang tidak akan menangis menyaksikan sahabatnya menyematkan ulos hela, sementara diseberang sana anaknya sendiri menyerahkan maskawin seperangkat alat solat dibayar tunai.

Kesedihan dan kekecewaan si orang tua tidak berakhir pada selesainya prosesi pernikahan. Kekecewaan dan kesedihan itu akan berlajut karena sejak menikah kebiasaan hidup si anak akan berubah dan sangat berbeda dengan kebiasaan si orang tua. Perbedaan ini akan menjadi tirai pembatas yang akan sangat mengganggu hubungan orang tua dengan anak.
Jadi sekali lagi kekecewaan dan ketidansetujuan saya terhadap anggota keluarga kami yang menikah dengan orang yang tidak seagama, bukanlah masalah sorga dan neraka, tetapi semata-mata masalah hubungan orangtua dan anak yang berubah. Hubungan yang berubah ini menimbulkan kekecewaan terhadap orangtua dan juga si anak.
Di lain sisi aku melihat bahwa sebuah pernikahan adalah suci, kudus dan sakral. Pernikahan bukan saja menyatukan dua individu, tetapi menyatukan dua keluarga besar. Jadi menurut saya pernikahan yang tidak menyatukan dua keluarga besar bukanlah pernikahan yang baik. Oleh karena itu momen bahagia sebuah pernikahan seharusnya mendapat restu dari keluarga kedua belah pihak dan membahagiakan banyak orang.

Bagaimana mungkin sebuah pernikahan bisa menyatukan dua keluarga besar kalau orangtua salah satu pihak yang akan menikah tidak memberikan restu? Pernikahan yang direstui saja belum tentu bahagia, apalagi pernikahan yang tidak direstui. Hal inilah yang harus dipahami sebelum memutuskan untuk menikah. Apakah pernikahan ini nantinya akan membuat lebih banyak kekecewaan daripada kebahagiaan? Itulah sebabnya setiap orang yang memberikan ucapan selamat kepada mempelai adalah selamat berbahagia. Jadi pernikahan yang direstui oleh orang tua kedua mempelai adalah salah satu syarat mutlak menuju pernikahan yang bahagia.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya bagaimana caranya agar sebuah pernikahan bisa menyatukan dua keluarga besar, membahagiakan banyak orang dan yang terutama mendapat restu dari orangtua keua belah pihak. Sesungguhnya caranya tidaklah sesulit apa yang dibayangkan, namun memang melalui proses panjang yang membutuhkan pengorbanan, kedisiplinan dan waktu.
Proses panjang itu dimulai sejak si anak itu lahir dan bagaimana dia dididik oleh orangtuanya, tetapi baiklan proses ini kita potong sejak sianak sudah mulai pacaran. Setiap orang berhak mengenal banyak lawan jenis atau pacaran, tetapi setiap orang dianugrahi pencipta kemampuan untuk mengenal lawan jenis yang mungkin cocok atau tidak cocok dengan dirinya. Kemampuan ini tidak boleh diabaikan dengan alasan cinta itu buta. Selain itu bergaullah dalam lingkungan orang-orang yang berkwalitas dan sejalan dengan ajaran yang dianut oleh keluarga. Dengan demikian peluang mendapatkan pasangan yang sesuai dengan harapan anda dan keluarga lebih besar. Jangan coba-coba bermain api. Bukan hanya anda yang akan dibakar oleh api itu, tetapi seluruh keluarga anda juga ikut terbakar.

Ketika seseorang telah menemukan seorang lawan jenis yang sudah cocok untuk dipacari, kenalkanlah sejak awal kepada keluarga terdekat, sehingga sejak awal keluarga sudah ikut menseleksi dan mengantisipasi bila ada hal-hal yang belum terpikirkan sebelumnya. Selanjutnya kalau ditemukan perbedaan yang prinsip jangan takut untuk memutuskan hubungan pacaran. Putus berkali-kali dalam pacaran bukanlah aib, tetapi perceraian adalah hal yang mutlak dihindari. Jadi jangan takut memutuskan hubungan dengan pacar yang didak direstui orang tua.

Jangan ada kata tidak tega. Saya sudah sangat mencintai dia, jadi saya tidak mungkin hidup tanpa dia. Dia baik sekali, tidak ada lagi orang lain yang sebaik dia. Saya memiliki banyak hutang budi kepada dia, jadi saya harus menikah dengan dia untuk membalas budi itu. Stop…! Hentikan semua alasan klise itu. Jangan pula ada alasan menikah itu kan hak saya, jadi siapapun yang akan saya nikahi tidak ada yang boleh melarang termasuk orang tua saya. Jangan juga beralasan menikah dengan orang yang beda agama kemudian mengikut agama pasangan kan tidak dilarang negara, sementara nilai-nilai yang dianut keluarga besar kita kan sudah kuno. Pikirkan kebahagiaan masa depanmu. Kalau kamu mau merubah nilai-nilai yang ada di keluarga kita dengan nilai-nilai yang menurutmu moderen, lakukanlah itu nanti ke anak-anakmu. Jangan lakukan itu untuk menyakiti orangtuamu.

Bagi saudara-saudaraku yang telah membuat jantung saya tersentak, saya minta tolong ikut memikirkan cara untuk menghindari timbulnya berita-berita buruk yang membuat kita sedih di esok hari. Biarlah adik-adik kita bisa menikah sesuai dengan harapan orang tua kita.

Bagi kalian yang yang sudah punya calon dan belum menikah, bawalah calonmu segera kerumah orang tua dan tanyalah mereka, apakah mereka setuju dengan pilihanmu. Kalau mereka tidak setuju, tanyakan alasan mengapa mereka tidak setuju. Kalau alasannya benar-benar demi kebahagiaanmu dan seluruh keluarga, tidak usah takut untuk mengganti calonmu.
Bagi yang belum punya calon, bergaullah di lingkungan yang baik menurut nilai-nilai yang dianut keluarga kita. Mudah-mudahan dari lingkungan itu kamu menemukan calon yang baik dalm ukuran nilai-nilai yang keluarga kita anut, dan kalau calonmu sudah ketemu, cepat-cepatlah bawa ke rumah lalu kenalkan kepada sebanyak mungkin saudara kita, terlebih kepada orangtua. Ikutkanlah mereka menseleksi calonmu.

Sekali lagi, buat adek-adek anggota keluarga besar kita yang belum menikah, tolonglah untuk tidak menikah dengan pasangan yang beda agama. Sudah terlalu banyak air mata orang tua kita yang tertumpah. Sudah terlalu banyak kekecewaan yang kita rasakan. Tinggalkanlah dulu egomu dan pikirkanlah kebahagiaan yang lebih besar yang bisa kau berikan kepada keluarga besar kita. Menikah dengan sesama orang batak dan kristen pula memang merepotkan, tetapi kerepotan ini merupakan bagian dari kebahagiaan keluarga kita. Mungkin kamu merasa orang lain lebih memperhatikan dan mengasihimu dibanding orang tua dan saudara-saudara mu, kamu salah besar. Ingatlah kami saudara-saudaramu dan terutama orangtuamu lebih sayang kepadamu dibanding dengan orang lain yang kau pilih karena dalam tubuh kita mengalir darah yang sama.

Sampai saat ini aku belum yakin, tetapi aku selalu berharap agar berita kemarin merupakan berita terakhir yang membuat jantungku tersentak.

Categories: Aku dan Pencipta | 4 Komentar

HKBP Sipanganbolon (Ibadah di sana rasanya TUHAN lebih dekat)

Saya tidak tahu kapan gereja ini pertama kali berdiri. Yang pasti sejak pertama, saya sudah melihat gereja ini berdiri kokoh, walaupun belum sebagus sekarang. Bahkan menurut cerita yang saya dengar sebelum almarhum ibu saya lahir gereja ini sudah berdiri. Yang paling mengejutkan saya adalah ketika saya membaca buku Biografi Cyrellus Simanjuntak saya jadi tahu kalau HKBP Sipanganbolon sudah ada pada tahun 1917. Dengan demikian gereja ini sudah berdiri hampir seratus tahun, atau bahkan mungkin lebih. Woww… sebuah usia yang cukup panjang.

Gereja ini dinamai dengan gereja HKBP Sipanganbolon karena memang terletak di Desa Sipanganbolon yang berjarak sekitar 9 km dari ibukota kecamatan, sekitar 40-an km dari ibukota kabupaten dan sekitar 180-an km dari ibukota provinsi. Gereja ini terletak persis di pinggir jalan lintas Sumatera, menempati lahan yang lumayan luas dengan halaman yang ditumbuhi rumput.

Bangunan yang ada di lokasi gereja terdiri dari bangunan utama gereja, rumah dinas pendeta, rumah dinas guru huria atau parhangir (maaf saya tidak tahu mengeja tulisan parhangir) dan bangunan yang terbaru adalah gedung taman kanank-kanak. Di bagian samping kiri belakang menyatu dengan gereja ada ruang konsistori yang dikenal juga dengan bilut parhobasan. Saya tidak tahu persis berapa ukuran pasti dari gedung gereja ini, namun gedung gereja inilah bangunan yang paling besar di Sipanganbolon (Saya tidak tahu apakah gedung HKI yang baru lebih besar).

Kalau dilihat dari bentuknya, sesungguhnya tidak ada yang terlalu istimewa dari bangunan gereja ini, Bentuknya persis dengan bentuk gereja HKBP kebanyakan. Bentuk memanjang monoton, atap segi tiga dan menara di bagian tengah depan, persis di atas atau merangkap teras. Apakah memang bentuk demikian sudah menjadi patokan HKBP yang harus diikuti..? Sesungguhnya saya lebih terkesan denga bangunan yang dulu dengan menara atau palas-palas yang terbuat dari kayu, dengan desain yang lebih artistik. Mungkin saking artistiknya sehingga menarik minat banyak burung wallet atau leang-leang untuk membangun sarangnya di sana. Kadang saya bertanya dalam hati apakah burung-burung itu tidak pusing mendengar suara dentangan lonceng besar yang sangat keras itu.

Menurut saya bentuk bangunan gereja yang paling artistik yang ada di Sipanganbolon adalah gereja Katolik yang berada persis di samping gereja HKBP. Bentuknya lebih unik walaupun ukurannya tidak terlalu besar. Mungkin ukurannya disesuaikan dengan jumlah jemaat katolik yang tidak sebanyak jemaat HKBP di Sipanganbolon. Memang harus diakui bahwa hampir di semua tempat, gereja Katolik selalu mencuri perhatian. Namun posisi gedung gereja HKBP Sipanganbolon yang sangat strategis dengan halaman rumputnya yang luas membuat gedung gereja ini terlihat begitu anggun dan mencuri perhatian setiap orang yang melitas di sana. Saya sangant berharap halaman gereja HKBP yang luas dan hijau ini tetap dilestarikan. Karena halaman itulah yang membuat gereja itu menjadi anggun. Tak terbayangkan bila sesuatu dibangun di halaman itu dan menghalangi pandangan dari jalanan ke gedung gereja. Di masa mendatang pasti banyak godaan untuk membangun sesuatu di halaman gereja itu. Apakah itu sekolah, gedung serba guna, atau bahkan bangunan komersil. Mudah-mudahan tidak ada pimpinan atau anggota jemaat gereja di masa sekarang dan masa yang akan datang yang tergiur untuk merubah halaman hijau yang luas itu menjadi sesuatu yang menghilangkan keanggunan gedung gereja.

Berbicara mengenai halaman gereja ini, saya teringat suatu kejadian sederhana yang bagi saya sangat bermakna dan menyentuh. Ketika bangunan gereja yang sekarang selesai dibangun yang katanya atas bantuan mantan gubernur Sumatera Utara Rajainal Siregar, akan dilakukan pesta peresmian. Pesta peresmian ini dipimpin langsung oleh “ompui” Eporus HKBP saat itu SAE Nababan dan disaksikan langsung oleh Rajainal Siregar besrta para pejabat seantero sumatera utara. Beberapa hari sebelum acara puncak peresmian, oppung Sirait yang dikenal dengan sebutan Oppung Palliting, membawa mesin potong rumputnya kehalaman gereja itu dan merapikan rumput-rumput yang ada di halaman yang luas itu dengan tangannya sendiri dan tentu saja tanpa meminta bayaran. Kala itu Mesin potong rumput masih merupakan mahluk asing di Sipanganbolon, saya tidak tahu kalau sekarang. Mungkin bangi banyak orang tindakan Oppung Palliting yang tidak bisa membaca ini tidaklah begitu berarti, tapi menurut saya oppung yang suka marah-marah ini sangat tahu kalau keanggunan gedung gereja itu adalah karena halaman rumput hijaunya yang luas. Oppung yang sudah lama almarhum ini dengan mata rabunnya melihat dengan jelas keindahan halaman rumput hijau yang luas itu, sehingga dia dengan iklas merapikan rumput-rumput itu.

Awalnya gereja ini adalah gereja pagaran dari HKBP Ressort Parapat yang megah itu, tetapi beberapa tahun terakhir ini sudah naik kelas menjadi ressort. Ini adalah sesuatu yang harus disyukuri karena sejak jadi ressort disana sudah ditempatkan seorang pendeta tetap yang pengetahuan ke-HKBP-annya lebih fasih, kerohaniannya lebih dalam dan kepemimpinannya lebih mumpuni dibandingkan dengan hanya sekedar seorang sintua yang diangkat menjadi guru huria seperti pada masa pagaran dulu. Namun dilain pihak, jemaat dituntut untuk memberikan lebih karena semakin banyak pengeluaran gereja. Itulah konsekuensi logis, bila ingin kualitas lebih baik, harus mau membayar lebih banyak. Jemaat telah memilih untuk menjadikan gerejanya menjadi ressort, jadi jemaat harus dengan lapang dada menerima segala konsekuensinya. Tetapi lebih dari itu, saya berharap siapa saja pendeta yang ditempatkan di sana benar-benar dan sungguh-sungguh dengan sepenuh hati melayani jemaat agar keimanan jemaat meningkat. Dengan kata sederhana agar pintu sorga dunia dan akhirat lebih terbuka buat seluruh jemaat. Kedengarannya memang terlalu berlebihan, tetapi saya pikir itulah tujuan utama mengapa jemaat bersusah payah menaikkan kelas gerejanya dari pagaran menjadi ressort.

Dari sejarahnya, gereja ini menjadi awal dimulainya pendidikan formal di Sipanganbolon. Sekolah dasar yang pertama, dilaksanakan di gereja ini. Guru yang mengajarpun dirangkap oleh guru huria gereja ini. Salah satu guru huria yang merangkap menjadi guru di gereja ini adalah Amangtua Tiopan Sinaga, abang kandung bapak saya. Setelah dari Sipanganbolon Amangtua ini pindah ke Tanahjawa dan terakhir dimakamkan di Girsang. Karena Amagtua inilah mengapa bapak saya bisa tingal di sipanganbolon, dan seterusnya menikah dengan ibu saya yang orang sipanganbolon dan selanjutnya melahirkan anak-anak di Sipangan bolon termasuk saya. Setelah beberapa tahun barulah pemerintah membangun gedung sekolah dasar didekat gereja ini yang dikenal dengan SD 1 dan proses belajar mengajar dipindahkan dari gedung gereja ke gedung sekolah yang baru. Waktu Saya masih sekolah minggu, masih ada beberapa bangku peninggalan dari sekolah yang dulu dipakai di gereja ini. Saya tidak tahu apakah bangku-bangku bersejarah itu masih ada.

Ketika terjadi pergolakan HKBP sekitar awal tahun 90-an yang menurut saya “memalukan” itu, yang menggenaskan itu, yang merusak hubungan persaudaraan itu, gereja HKBP Sipanganbolon tidak ikut-ikutan. Tidak beralih ke “SSA” dan tidak memihak ke “Monjo”, walaupun sesekali ada issu ancaman. Apalagi ketika berduyun-duyun massa melintas melewati Sipanganbolon menuju Tarutuang yang datang entah dari mana. Efek dari peristiwa ini sangat mengganggu jemaat HKBP Sipanganbolon. Keimanan jemaat saat itu banyak yang merosot. Kebaktian minggu sangat sepi, tidak ada koor selain parari kamis, pendeta resort jarang datang berkotbah ke Sipanganbolon dan banyak lagi. Tetapi puji Tuhan keadaan ini terlewati juga. Mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi lagi mimpi buruk itu. Biarlah Pimpinan HKBP mengedepankan pelayanan kepada jemaat diatas kepentingan pribadi, golongan, apalagi ambisi pribadi.

Begitu banyak kenangan yang tertinggal di gereja ini. Masih jelas dalam ingatan bagaimana guru sekolah minggu bercerita tentang adam dan hawa yang biarpun tidak memakai baju tetapi hidup dengan damai di Taman Eden, namun pada akhirnya sang ular menggoda mereka untuk jatuh ke dalam dosa. Guru sekolah minggu juga menceritakan tentang malaikat-malaikat Tuhan yang katanya cantik-cantik, hingga aku pernah bermimpi ingin bertemu dengan mahluk Tuhan yang cantik-cantik itu. Namun setelah saya tahu dati film-filn akhir pekan TVRI yang aku tonton di rumah tetangga bahwa orang yang bertemu dengan malaikat adalah orang yang diujung ajal, saya jadi takut dan tidak ingin lagi bertemu dengan mahluk cantik itu. Polos sekali pikiran saya kala itu. Masih jernih dalam memori ketika marayat-ayat “dimula ni mulana…” di altar gereja dengan pengeras suara TOA, penerangan lampu petromax dan ditemani pohon terang yang terbuat dari rangkaian ranting-ranting pohon pinus dengan lilin-lilin kecil sebagai hiasannya, ketika marguru malua, manghatindanghon haporseaon (sidi) dan yang paling istimewa ketika saya memasangkan cincin kawin di jari manis isteri tercinta di altar gereja ini. Jadi di gereja inilah banyak peristiwa penting hidup saya dilangsungkan. Mulai dari dibaptis sampai menerima pemberkatan nikah.

Di gereja ini jugalah saya mengenal sintua-sintua dengan segala karakternya masing-masing. Satu sintua yang tak munkin dilupakan adalah sintua Manurung dari Porti. Karakternya yang unik dan gemulai telah membuat gereja HKBP Sipanganbolon lebih berwarna, walau kadang-kadang ada yang tidak setuju dengan sikapnya. Namun bagi saya dia adalah sintua yang berkarakter dan istilah jaman sekarang “ngangenin”.

Dulu, ketika bapak dan ibu masih ada, sering kali rumah kami dikunjungi oleh calon pendeta, calon guru huria atau siapa saja yang ditempatkan pusat di gereja HKBP Sipanganbolon. Ada marga Bancin, marga Simanungkalit, marga Sitohang, marga Sihombing dan banyak lagi. Mudah-mudahan mereka datang bukan karena kala itu ada kakak saya yang cantik yang masih tinggal di rumah. Pernah juga ada calon guru huria yang lagi magang di Sipangan bolon sebanyak 5 orang sering datang ke rumah kami. Saking seringnya, sekalian saja ibu saya mengajak menreka mencangkul ke ladang. Salah satu diantara mereka orangnya nyentik dan suka bergaya. Pernah satu kali saya melihat dia melukai dagunya dengan pisau silet. Katanya biar dagunya berbelah seperti para bintang film barat itu. Ada-ada saja.

Saya sudah melakukan ibadah di beberapa gereja di tempat lain, di Siantar, di Medan, di Jakarta, di gereja HKBP Rawamangun yang katanya pelean mereka ke kantor pusat paling besar dari seluruh gereja HKBP yang ada, bahkan di sebuah gereja di Tokyo, tetapi perasaan saya ibadah di HKBP Sipanganbolon lebih mengena. Rasanya Tuhan lebih dekat kalau ibadah di HKBP Sipanganbolon dibanding semua gereja lain yang pernah saya kunjungi. Apakah munkin karena gereja ini lebih dekat ke langit…? Dari semua gereja yang pernah saya kunjungi, HKBP Sipanganbolonlah yang paling tinggi dari permukaan laut, sekitar 1000 m dpl. Jadi kalau paling tinggi dari permukaan laut, berarti paling dekat ke langit. Hhhhh… Kenikmatan beribadah di HKPB Sipanganbolon tentu saja bukan karen paling dekat ke langit. Ikatan batinlah yang menyebabkannya. Bukan hanya ibadah, tidurpun sangat nikmat di gereja ini. Berbahagialah jemaat HKBP Sipanganbolon memiliki gereja ini. Sayang sekali jika jemaat jarang datang ke gereja ini.

Saya dengar saat ini Gereja HKBP Sipanganbolon sedang melakukan renovasi, mengganti menara, memasang keramik lantai, memperpanjang bangunan gereja dll. Saya senang sekali mendengarnya. Itu tandanya kemajuan. Saya jadi teringat ketika acara pernikahan saya di gereja ini, samar-samar saya dengar suara seorang kerabat yang usil. Kok lantainya berbelang-belang…? Kok karpetnya berdebu…? Kok kembangnya plastik…? Kok…?,Kok….?, Kok…. Tetapi saya tidak terpengaruh. Saya bangga bisa melangsungkan pernikahan di gereja dimana masa sekolah minggu saya habiskan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun dengan pembangunan ini mungkin tidak akan ada lagi suara-suara sumbang dari orang seperti kerabat saya yang usil itu. Dan yang terpenting, dengan pembangunan ini mudah-mudahan Tuhan semakin dekat dengan jemaat dan bukan sebaliknya.

Saya berharap halama rumput hijau yang luas itu masih ada sampai seribu tahun lagi. (maaf… lebay dan saya baru bisa “omdo” omong doang)

Maaf bila ada kata yang tidak berkenan dalam tulisan ini. Tidak ada maksud lain selain mengungkapkan kecintaan terhadap HKBP Sipanganbolon.

Salam Hormat buat pimpinan HKBP Sipanganbolon
Tabe mardongan tangiang tu sude ruas HKBP Sipanganbolon

Walau sudah agak terlambat,

Selamat Tahun Baru 2012.

Sebuah pesta di halaman gereja HKBP Sipanganbolon

Categories: Aku dan Pencipta | 8 Komentar

PARNASIB

Kata ini membawa ingatan ke masa yang tak terlupakan sekitar 13 tahun yang lalu. Kata ini membawa ke suasana akhir tahun yang hangat, walaupun hampir setiap hari ditemani oleh gerimis bahkan hujan deras. Kata ini memunculkan kembali wajah sahabat-sahat yang dengan mereka suasana kelahiran Yesus di kampung jadi berbeda. Kata ini membangkitkan kembali kenangan ketika menjahitkan satu stel Jas warna krem untuk yang pertama kalinya, karena harus berdiri di podium dengan penampilan terbaik. Kata ini membangunkan kembali memori yang sudah lama tersimpan dengan rapi di sudut ingatan.

Beberapa anak muda yang masih sangat muda dipaksa keadaan untuk meninggalkan kampung halamannya menuntut ilmu di ibukota propinsi. Dalam kesehariannya mereka bergaul dengan orang-orang yang kurang lebih senasib dengan mereka yang berasal dari berbagai dusun dan kampung di seantero propinsi. Mereka melihat ada kebiasaan yang berbeda yang dilakukan teman-teman mereka yang berasal dari kampung lain setiap menjelang akhir tahun. Teman-teman mereka itu akan sibuk berkumpul dengan teman-teman sekampung melakukan rapat, latihan koor, mencari dana dan selanjutnya akan melakukan perayaan natal di kampung mereka.

Awalnya pemuda-pemuda itu tidak terpengaruh oleh fenomena akhir tahun teman-teman mereka. Awalnya pemuda-pemuda itu tidak tertarik dengan suara-suara latihan koor teman-teman mereka itu. Namun di tahun 1998 godaan itu semakin kuat dan tidak terbendung lagi. Godaan yang kuat itu membangkitkan mimpi indah, kalau mereka bisa mengapa kita tidak…? Godaan yang kuat itu menyemangati langkah mereka untuk bergandengan tangan mewujudkan mimpi itu. Mereka merencanakan sesuatu yang berbeda mewarnai suasana akhir tahun di kampung. Gang Cipta di Jalan Jamin Ginting menjadi saksi pertama dari mimpi besar mereka. Si Cantik yang tinggal disana menjadi tuan rumah rencana besar itu. Selanjutnya Simalingkar menjadi markas setiap hari Minggu sore untuk mengurai mimpi dan rencana besar itu.

Awalnya memang tidak mudah. Ternyata banyak sekali kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi. Mulai dari tidak adanya pengalaman (Ini adalah kegiatan PANASIB yang pertama, mudah-mudahan bukan yang terakhir), kesulitan mencari biaya (Mereka semua berasal dari keluarga ekonomi pas-pasan, boro-boro untuk menyisihkan uang, untuk biaya makan, kost dan SPP saja kadang kurang), kesusahan mengumpulkan banyak teman-teman setiap akhir pekan (mereka terpencar di pelosok ibukota propinsi yang kalau mau kupul di satu tempat memerlukan waktu dan biaya) dan banyak masalah yang lain. Masalah-masalah tersebut sempat menyurutkan semangat mereka untuk melanjutkan mimpi itu. Namun keinginan untuk melakukan sesuatu yang berbeda di kampung pada akhir tahun menggerakkan langkah mereka untuk terus melangkah menwujudkan mimpi itu.

Persiapan-persiapan pun dilakukan. Setiap hari minggu sore berkumpul di Simalingkar, sehingga Simalingkar serasa menjadi rumah sendiri. Panitia dibentuk dan sang tuan rumah di Simalingkar dinobatkan menjadi ketua. Dikemudian hari keberadaan ketua ini dipertanyakan beberapa orang di kampung hanya karena marganya bukan marga mayoritas, namun panitia tidak terpengaruh. Ternyata bagi sebagian orang, faktor mayoritas-monoritas sebegitu pentingnya. Proposal disusun, tujuan utamanya tentu saja untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, namun di lain pihak proposal ini dimaksudkan untuk menjelaskan dengan sejelas-jelasnya kegiatan apa yang mau dilakukan dan yang tidak kalah penting untuk mendapatkan legalitas dari penguasa di kampung yaitu Kepala Desa.

Setelah kepanitiaan tersusun dan proposal sudah diteken, dimulailah perburuan dana. Target utama yang disasar adalah bapak mantan anggota MPR-RI yang dikenal dengan koperasi angkutan umumnya. Walau tidak sebesar yang dibayangkan, dari beliau didapatkan dana yang tidak bisa dikatakan sedikit. Selain beliau ada satu-dua donatur yang diharapkan bisa memberi lebih, selebihnya hanya donatur dengan keadaan ekonomi biasa-biasa saja, bahkan cenderung ekonomi lemah. Hingga menjelang hari H keadaan dana sangat menghawatirkan, tetapi di detik-detik terakhir ternyata dana yang dikumpulkan lebih dari apa yang dibutuhkan. Di luar dugaan banyak orang yang berbaik hati untuk kegiatan yang dikerjakan dengan tulus dan sepenuh hati.

Beberapa hari menjelang kegiatan dilaksanakan, kesibukan di Simalingkar dipindahkan ke Balai Desa di Kampung. Langkah awal adalah menggabungkan panitia yang dari simalingkar dengan pemuda-pemuda yang ada di kampung. Penggabungan ini tidak berjalan mulus, namun tidak terlalu sulit. Ada beberapa pemuda yang tinggal di kampung yang merasa resistan, terganggu, atau apalah namanya dengan kegiatan tersebut. Mereka tidak mau ikut bergabung, tetapi tidak menjauh. Mereka memantau dari jarak yang menurut mereka aman. Hal ini menjadi masalah tersendiri. Panitia tidak memiliki solusi untuk masalah ini, dan ini menjadi catatan kedepan.

Dalam waktu yang sangat terbatas, persiapan di kampung dikebut dengan berbagai kesulitannya dan dua hari menjelang pergantian tahun acara pun digelar dengan segala kekurangannya. Gereja HKI menjadi pilihan terbaik melaksanakan acara ini. Memang masih ada gereja HKBP yang daya tampungnya lebih besar, namun pilihan jatuh ke HKI dengan alasan kehati-hatian. Panitia ingin kegiatan pertama ini berlangsung secara sederhana, namun benar-benar berkesan.

Sejak acara dimulai, awalya tidak ada masalah. Undangan yang hadir cukup banyak. Mereka duduk berdesakan dibangku-bangku panjang yang jumlahnya tidak banyak, bahkan sebagian undangan berdiri di bagian belakang. Mereka mengikuti acara dengan seksama. Mereka sepertinya menunggu kejutan-kejutan yang akan muncul dalam acara tersebut. Tanpa diduga-duga kejutan itupun muncul. Tanpa disangka-sangka dipertengahan acara terjadi gangguan teknis. Sound system gereja yang dayanya kecil bermasalah. Panitia berusaha memperbaiki, tetapi tidak berhasil, sehingga hampir separuh acara berlangsung tanpa bantuan pengeras suara. Ketiadaan pengeras suara ini sangat mengganggu. Undangan jadi tidak mendengarkan dengan jelas apa yang diucapkan oleh pengisi acara dari depan.

Yang lebih menghawatirkan panitia adalah operet yang akan ditampilkan di ujung acara bakal menjadi mimpi yang tidak akan terwujud kalau tidak ada pengeras suara. Operet ini hanya bisa dilakukan kalau ada sound system. Operet ini dilakukan dengan mengikuti suara dari kasette yang diputar, sehingga pemeran yang tampil hanya mengikuti suara yang muncul dari kasette saja. Tidak terbayangkan kekecewaan panitia, bahkan mungkin undangan, bila operet ini tidak jadi ditampilkan. Panitia sempat panik dan hampir pasrah, namun ditengah kepanikan panitia ada warga yang mengetahui kepanikan itu dan berbaik hati memberikan bantuan. Seseorang menawarkan ke panitia untuk menggunakan peralatan sound system yang ada di rumahnya. Seseorang ini menjadi dewa penolong disaat panitia hampir putus asa. Ternyata begitu banyak orang yang berbaik hati untuk menolong kegiatan yang dilakukan dengan tulus dan sepenuh hati.

Acarapun diakhiri dengan menyantap lappet yang tadi siang dimasak oleh beberapa orang yang berbaik hati dan minum air mineral Aeros yang dijemput langsung dari Balige. Semua undangan bahagia sambil menikmati lappet dan minum aeros. Namun yang paling bahagia adalah panitia. Tujuan untuk memberikan sebuah sentuhan yang berbeda di kampung pada akhir tahun tercapai. Inilah kegiatan pertama dari pemuda yang tergabung dalam sebuah nama yang mereka sebut dengan PARNASIB. Nama ini dirancang oleh seseorang di sebuah kamar berukuran kecil ketika dia hendak tidur beberapa hari sebelum panitia dibentuk. Ketika nama ini ditawarkan ke panitia, semua setuju tanpa ada yang komplain. Mungkin nama ini langsung pas di hati mereka.

Malam telah larut ketika semua undangan meninggalkan gedung gereja HKI. Daun-daun pisang bekas bungkus lappet berserakan dimana-mana, demikian juga dengan gelas-gelas plastik aeros. Panitia bertanggung jawab membersihkan semua sampah itu, dan panitia melakukannya dengan suka cita.Tenaga yang dikerahkan untuk membersihkan sampah-sampah itu tidak seberapa disbanding dengan seyuman bahagia di wajah para undangan yang meninggalkan gedung gereja. Perayaan memang harus usai, namun semangat yang ditimbulkannya tetap bersemayam dalam hati. Mimpi itu telah jadi kenyataan, walaupun tidak sesempurna yang dibayangkan. Namun keyataan itu menunjukkan bahwa sesuatu maksud baik bisa terwujud bila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

Demikianlah pada masa itu ternyata pemuda-pemuda itu mampu memberikan sentuhan akhir tahun 1998 yang manis dan berkesan. Setiap masa memang memiliki generasi sendiri-sendiri. Setiap generasi berhak mengapresiasikan dirinya dimanapun dia berada. Setiap anak muda pasti punya berjuta mimpi mulia yang ingin dia sumbangkan buat orang-orang di sekitarnya. Hanya kesungguhan dan kerja keraslah yang bisa membuat mimpi-mimpi itu menjadi nyata. Tentu saja dengan tidak boleh melupakan kemurahan Tuhan.

Tahun-tahun berikutnya kegiatan PARNASIB itu juga dilakukan dengan kualitas yang jauh lebih baik. Namun beberapa tahun kemudian kembali redup. Tiba-tiba tanpa sengaja tahun kemarin saya dengar kegiatan itu kembali dibangkitkan lagi. Tentu saja dengan pemuda-pemuda yang berbeda. Saya sangat senang mendengarnya. Saya senang sekali kalau pemuda-pemuda yang ada sekarang di sana mau mengapresiasikan diri bagi orang-orang disekitarnya. Sesungguhnya banyak hal bisa di lakukan, bukan hanya sekedar perayaan natal saja. Saya yakin pemuda-pemuda yang ada sekarang disana mampu melakukan bayak hal yang bisa menggairahkan kampung. Yakinlah.. sekecil apapun sentuhan yang diberikan buat kampung kita pasti ada maknanya, pasti ada imbalanya. Tuhan juga pasti berpihak kepada mereka yang mau bekerja keras mewujudkan mimpi dan membahagiakan orang-orang disekitarnya.

Saya rindu setiap wajah orang tua di kampung tersenyum bahagia melihat anak-anaknya yang pekerja keras. Saya rindu anak-anak kecil yang tinggal disana memiliki impian yang tinggi melihat abang dan kakaknya yang kreatif.

Salam hormatku buat panitia Natal Parnasib 2011
Tabe mardongan tangiang tu sude Naposo Sipanganbolon.
Tetap Semangat…..!

Kenangan itu muncul kembali dan terlalu manis untuk dilupakan.

Kenangan Natal Parnasib tahun 1999

Categories: Aku dan Pencipta | 1 Komentar

Hasian

Sejak pertama seseorang mengenalkanmu kepadaku,

aku sudah jatuh cinta,

walaupun aku belum melihat wajahmu,

bahkan belum mengetahui siapa namamu.

 

Aku ingin segera bertemu denganmu sayang.

Aku tidak sabar segera melihat wajahmu,

mencium keningmu, membelai rambutmu,

bahkan mencurahkan segala cintaku kepadamu.

Namun Tuhan menghendaki aku harus menunggu lama.

Selama berbulan-bulan aku menanti dengan tidak sabar.

 

Ketika waktunya akan tiba bertemu dengan dirimu,

degup jantungku terasa berlari kencang.

Akankah dirimu sesempurna yang aku harapkan…?

Akankah wajahmu secantik yang aku bayangkan…?

Banyak pertanyaan yang tidak penting memenuhi rongga kepalaku.

Semua pertanyaan itu tak bisa kujawab dan membuat aku gugup.

Semakin dekat waktunya aku semakin gugup.

 

Akhirnya dalam keadaanku yang was-was, khawatir, gugup, Tuhan mempertamukan kita.

Dan pandangan pertama kita menghilangkan semua khawatir itu seketika.

Aku benar-benar bahagia.

Ternyata kau begitu sempurna sayang..!

Kau bahkan lebih cantik dari apa yang kubayangkan sebelumnya.

 

Kini hampir setahun kita hidup bersama.

Engkau telah memberikan banyak kebahagiaan,

Walau memang kuakui kadang-kadang aku tidak bisa mencurahkan seluruh waktuku kepadamu,

tetapi cinta dan sayangku akan selalu utuh kepadamu.

 

Boru Hasian…

29 Desember ini genaplah setahun usiamu.

Banyak sudah yang telah kita lakukan bersama selama setahun ini

Saya kagum akan perkembanganmu.

Ketika kamu menangis untuk yang pertama kalinya

Ketika kamu membuka mata untuk yang pertama kalinya

Ketika kamu mulai bisa membalikkan bandan

Ketika kamu mulai bisa duduk

Ketika gigimu mulai tumbuh

Ketika kamu mulai bisa berdiri

Semua itu itu sungguh-sungguh hadiah terindah dari Tuhan buat aku dan ibumu.

 

Kadang-kadang aku dan ibumu begitu khawatir

ketika kamu demam,

ketika kamu mogok makan,

ketika kamu lemas karena diare,

ketika ee’ mu keras

ketika kamu menangis sejadi-jadinya

ketika aku harus meninggalkan kamu berdua saja dengan ibumu untuk urusan pekerjaan,

bahkan ketika dokter menyuntik vaksin ke tubuhmu, ibumu tidak berani melihat.

Itu semua menjadi pengalaman baru dan luar biasa bagi aku dan ibumu.

 

Boru Hasian…

Hanya dalam hitungan hari engkau akan memasuki tahun kedua kehidupanmu.

Aku yakin akan semakin bayak pengalaman-pengalaman baru yang akan kita alami

Dan aku tidak sabar menunggu pengalaman-pengalaman itu.

Mungkin diantara pengalaman-pengalaman itu ada yang tidak kita harapkan.

Tidak apa-apa boru, Tuhan akan menguatkan kita untuk menjalaninya.

 

Aku dan ibumu ingin kita bertiga saja yang merayakan ulang tahunmu.

Untuk itu ibumu telah memesan kue ulang tahun.

Mudah-mudahan nanti tidak turun hujan

sehingga kue ulang tahun mu dikirim kerumah kita tepat waktu.

 

Selamat menyambut hari jadi yang pertama boru hasian Aurora Masniari Sinaga

Selamat menjalani pengalaman-pengalaman baru

Tuhanlah senantiasa yang menjadi kekuatan kita.

 

Categories: Aku dan Pencipta | Tinggalkan komentar

Satu Hari di Pajak Horas Bersama Ibu

Bagi orang-orang yang tinggal di sekirat Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun tak asing lagi dengan Pajak Horas yang sebenarnya bernama Pasar Horas. Disebut Pajak Horas karena di daerah Sumatera Utara pasar dikenal dengan sebutan pajak. Pajak Horas berada persis di tengah-tengah Kota Pematang Siantar dan diapit oleh dua jalan utama yaitu Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka. Pasar ini merupakan pasar terbesar yang dimiliki oleh Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun. Pasar ini agak mirip dengan Pasar Senen yang ada di Jakarta. Disana dijual berbagai keperluan mulai dari pakaian sampai bumbu dapur.

Satu kali ketika saya masih SD, ibu mengajak saya ke pasar ini untuk belanja pakaian yang nantinya akan dijual kembali oleh ibu. Selain pekerjaan utama bertani, ibu memiliki pekerjaan sampingan yaitu berjualan pakaian. Saya senang sekali diajak ibu ikut berbelanja ke Pajak Horas. Waktu itu kami berangkat pagi-pagi dari rumah. Perjalanan dari rumah ke pasar ini memakan waktu sekitar 2 jam. Angkutan yang kami naiki adalah bis 3/4 bernama Koperasi Diori. Selama perjalanan menaiki Koperasi Diori ini kepala saya pusing dan beberapa kali saya muntah. Untunglah ibu telah mengantisipasinya dengan menyediakan kantongan plastik untuk menampung muntahan saya. Dengan wajah saya yang lemas kami turun di Terminal Parluasan dan selanjutnya melanjutkan perjalanan naik angkot atau disana dikenal dengan Mopen menuju Pajak Horas.

Sesampainya di Pajak Horas, kami lansung menuju ke grosir-grosir pakaian. Saya menikmati pemandangan di pasar itu. Para pedagang pakaian yang sibuk memajang dagangannya, penjual perabotan, penjual buku, dan yang lainnya menarik perhatian saya. Semua pemandangan itu telah membuat saya melupakan kepusingan saya selama perjalanan dari kampung sampai ke Terminal Parluasan.

Ternyata butuh waktu lama untuk memilih pakaian-pakaian yang akan dibeli ibu. Tak terasa waktu sudah lewat tengah hari ketika ibu menyelesaikan semua belanja pakaiannya. Ibu tahu kalau saya sudah lapar, kemudian ibu menitipkan semua belanjaannya kepada pemilik grosir yang sudah menjadi langganan nya, lalu ibu mengajak saya mencari tempat makan siang. Saya berharap ibu mengajak saya makan di kedai-kedai bakmi yang ada di Jalan Bandung atau Jalan Surabaya yang tidak jauh dari Pajak Horas itu. Kedai-kedai bakmi itu menjadi tempat makan favorit bapak kami ketika dia masih sehat. Bapak hamper tiap bulan ke sana karena urusan pekerjaan. Setiap kali pulang dari Siantar bapak pasti membawakan bakmi sebagai oleh-oleh, dan itu menjadi makanan yang sangat luar biasa buat saya. Mungkin itu juga yang meyebabkan sampai hari ini kami sekeluarga sangat memfavoritkan bakmi Siantar.

Pernah ada kisah unik mengenai bakmi ini. Ketika bapak saya meninggal, abang-abang saya yang tinggal di luar Sumatera (waktu itu saya masih kuliah di Medan) pulang bersama-sama dengan mencarter mobil dari Polonia menuju kampung. Di Siantar mereka singgah untuk makan siang. Mereka memilih makan bakmi, karena bakmi menjadi makanan kesukaan keluarga kami. Ketika mereka makan, pemilik kedai ngobrol dan berkenalan dengan abang-abang saya. Si pemilik bakmi mengatakan kalau dulu dia memiliki pelanggan seorang bapak yang marganya sama deangan marga kami dan kampungnya juga sama. Tapi entah kenapa sudah lebih dari sepuluh tahun si bapak itu tidak pernah muncul lagi. Pendek cerita ternyata si bapak yang dimaksud pemilik kedai itu adalah bapak saya. Dan si pemilik kedai itu sangat kaget kalau orang-orang yang lagi makan di kedainya adalah anak-anak dari si bapak langganannya itu, dan lebih kaget lagi kalau orang–arang yang lagi makan itu dalam perjalanan menuju kampung menemui bapaknya yang baru saja meninggal.

Ketika kami berjalan meninggalkan grosir pakaian sudah terbayang kelejatan bakmi Siantar di pikiran saya. Aromanya yang khas seakan menggoda indra penciuman saya. Mienya yang kenyal seakan menari-nari di mulut saya. Kuahnya yang gurih seakan sudah meluncur ke kerongkongan saya. Dan daging merahnya seakan memanggil-manggil untuk segera dikunyah. Wowww sedapnya…. Inilah kali pertama saya akan menikmati bakmi ini langsung di tempat penjualnya. Tidak seperti biasanya, saya memakan bakmi ini di rumah kami karena dibawa pulang oleh bapak kami. Perut sayapun semakin lapar membayangkan kelejatan bakmi Siantar itu.

Dalam perjalanan menuju tempat makan ternyata kami tidak meninggalkan gedung Pajak Horas tersebut. Saya malah diajak ibu menuju lantai bawah di pojok bagian belakang. Disebuah pojokan yang agak gelap terdapat sebuah kios kecil penjual makanan. Ternyata kesanalah ibu mengajak saya untuk malan siang. Disana hanya ada sebuah meja kecil, sebuah bangku panjang dari kayu, di atas meja ada rak kaca yang kacanya sudah agak buram sebagai tempat makanan di pajang, dan disana ada seorang ibu tua yang menungguinya.

Si ibu tua mempersilahkan kami duduk di bangku panjang dan menayakan kami mau makan apa. Saya melihat disana hanya ada menu berupa beberapa ekor ikan kembung yang digoreng, sedikit ikan teri dan beberapa butir telor rebus yang dibuang kulitnya lalu diberi sambal goreng. Seketika itu juga rasa lapar saya hilang. Saya ingin protes ke ibu, kenapa ibu mengajak saya makan di tempat yang sumpek ini, sementara di tempat yang tidak jauh dari sana ada bakmi lezat yang sudah menggoda hayalan saya sedari tadi. Namun saya tidak berani protes. Setahu saya belum pernah di keluarga kami ada yang protes, apalagi protes masalah makanan kepada orang tua. Saya hanya memendam kekecewaan saya di dalam hati.

Ibu memesan dua porsi nasi dengan lauk telor dan sayurnya kol bercampur buncis yang dimasak dengan santan seadanya. Minumnya adalah air putih yang warnanya tidak begitu jernih. Dengan perasaan terpaksa saya memakan makanan yang sudah terhidang di hadapan saya. Harapan akan nikmatnya bakmi pupus sudah. Sementara itu ibu hanya memakan separuh nasi yang ada di piringnya. Selebihnya dia pindahkan ke piring saya. Saya tau ibu juga lapar, tapi saya tidak mengerti mengapa ibu melakukan itu.

Sejak makan siang itu saya tidak lagi menikmati perjalananku dengan ibu sampai kami kembali ke rumah. Saya kecewa berat dengan makan siang itu. Cukup lama saya memendam kekecewaan itu. Namun setelah saya dewasa saya memahami tindakan ibu waktu itu. Sejak bapak kami sakit, ibu harus bertanggungjawab akan semua kebutuhan kami. Ibulah yang harus mencari uang, dan untuk itu ia harus berhemat sehemat mungkin. Bukannya ibu tidak mau mengajak saya makan siang di kedai bakmi kala itu, tetapi ibu lebih memilih membayar uang sekolah kami anak-anaknya dari pada hanya sekedar makan bakmi.

Begitulah cara yang ibu tau untuk memperjuangkan kehidupan kami. Mungkin pada saat itu banyak tindakan ibu yang tidak saya pahami, tapi hari ini saya menyadari bahwa semuanya ibu lakukan semata-mata agar masa depan kami lebih baik daripada kehidupan yang dia alami.

Categories: Aku dan Pencipta | 1 Komentar

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.